“Penghematan devisa dengan asumsi harga BBM US$120/barel adalah US$7 miliar per tahun, penghematan devisa BBM. Jumlah yang luar biasa,” kata Hadi ketika dihubungi, Kamis (29/1/2026).
Devisa Keluar
Bagaimanapun, potensi penghematan devisa tersebut belum memperhitungkan devisa yang keluar untuk impor minyak mentah atau crude oil.
Dia mencontohkan, dengan asumsi rendemen 70%, maka untuk menghasilkan setiap 160.000 barel BBM dibutuhkan sekitar 228.571 barel minyak mentah atau setara 83,4 juta barel minyak mentah per tahun.
Dengan asumsi harga minyak mentah Brent US$65/barel, maka nilai impor minyak mentah dengan besaran itu mencapai US$5,4 miliar dalam setahun.
Dihubungi terpisah, pakar energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi sebelumnya memprediksi Indonesia tidak akan begitu menghemat devisa negara meskipun kebijakan penyetopan impor BBM untuk operator SPBU swasta diberlakukan.
Alasannya, PT Pertamina (Persero) diprediksi tetap harus mengimpor minyak mentah atau crude untuk diolah menjadi BBM, sebab produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan dan diprediksi tidak akan mencukupi untuk memasok kebutuhan BBM nasional.
Fahmy juga mengestimasikan besaran minyak mentah yang harus diimpor akan meningkat signifikan lantaran Pertamina perlu memproduksi BBM untuk perusahaan dan menjualnya juga ke SPBU swasta.
“Ya itu kan mengalihkan impor saja. Besaran uang atau devisa yang dikeluarkan untuk impor itu kan sama saja sesungguhnya. Artinya itu sama saja bohong, stop impor bensin tetapi memperbesar impor crude. Dagelan aja itu,” kata Fahmy ketika dihubungi, pekan lalu.
Sekadar catatan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan rencana penghentian impor BBM jenis bensin hanya dilakukan untuk nilai oktan atau RON 92, RON 95, dan RON 98.
Rencanannya, penghentian impor bensin itu dilakukan pada akhir 2027 mendatang. Adapun, bensin RON 90 yakni BBM bersubsidi Pertalite bakal tetap diimpor.
Bahlil menyatakan keputusan terkait dengan penyetopan impor sejumlah jenis BBM tersebut akan diputuskan oleh Kementerian ESDM pada akhir 2027.
“Kemudian bensin yang RON 92, 95, 98 [akan distop impornya]. Jadi tinggal kita impor yang RON 90 saja, yang untuk subsidi,” kata Bahlil dalam rapat kerja di Komisi XII DPR, Kamis (22/1/2026).
Bahlil menegaskan ketika impor itu distop, maka Indonesia bakal menggantinya dengan impor minyak mentah dan mengolahnya sendiri di kilang domestik.
“Nah, ini kita akan selesaikan nanti di akhir 2027. Supaya apa? Kita tidak lagi terlalu banyak mengimpor produk. Akan tetapi, nanti yang kita impor adalah crude,” ujar dia.
Adapun, Pertamina mengendalikan bisnis penyulingan minyak lewat anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Saat ini, KPI mengoperasikan enam kilang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari.
Sejumlah kilang itu termasuk refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170.000 barel minyak per hari (bph), RU III Plaju berkapasitas 126.000 bph, RU IV Cilacap berkapasitas 348.000 bph, RU V Balikpapan berkapasitas 360.000 bph, RU VI Balongan berkapasitas 150.000 bph, dan RU VII Kasim berkapasitas 10.000 bph.
(azr/wdh)





























