Logo Bloomberg Technoz

Lesatan harga emas disebabkan oleh ekspektasi bahwa Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Jerome ‘Jay’ Powell tidak lama lagi akan mengakhiri masa jabatannya. Pengganti Powell diperkirakan sosok yang lebih dovish, pro kebijakan moneter longgar.

Dini hari tadi waktu Indonesia, Komite Pengambil Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 3,5-3,75%.

“Pelaku pasar sudah melihat era selepas Powell. Gubernur berikutnya mungkin akan jauh lebih dovish. Siapa yang menjadi gubernur akan sangat menentukan gerak harga emas tahun ini,” kata Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan lebih menguntungkan saat suku bunga turun.

Ke depan, pasar memperkirakan harga emas masih akan dalam tren menanjak. Dalam jangka pendek memang ada risiko koreksi, tetapi trennya masih positif.

“Ekspektasi bahwa The Fed akan lebih dovish dan risiko geopolitik akan membuat alokasi investor ke emas akan meningkat, terutama investor ritel. Di luar koreksi jangka pendek. kami masih melihat potensi kenaikan,” tutur Suki Cooper, Global Head of Commodity Research di Standard Chartered Plc, dalam catatannya.

(aji)

No more pages