Logo Bloomberg Technoz

MSCI memberikan waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk melakukan perbaikan signifikan terkait transparansi kepemilikan saham. Jika tidak terdapat kemajuan yang dinilai memadai, MSCI menyatakan akan meninjau kembali status aksesibilitas pasar Indonesia, yang berpotensi berdampak pada penurunan klasifikasi dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Phintraco Sekuritas menilai bahwa skenario tersebut berisiko menekan pasar keuangan domestik, termasuk potensi arus keluar dana asing yang lebih besar, pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah, penurunan likuiditas pasar, hingga meningkatnya persepsi risiko dan biaya pendanaan pemerintah maupun korporasi.

Meski demikian, bobot Indonesia di Frontier Market Index berpotensi menjadi lebih besar dibandingkan pada Emerging Market Index, serta valuasi saham dinilai berpeluang kembali mencerminkan fundamentalnya setelah aksi jual besar terjadi.

Baca Juga: BEI Harap Investor Tak Panik

Sementara itu, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyebut perdagangan saham pada 28 Januari 2026 menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah pasar modal Indonesia. Menurutnya, penurunan IHSG lebih mencerminkan krisis kepercayaan pasar dibandingkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.

“IHSG terjun bebas hingga 7,35 persen dan ditutup di level 8.320,56, bahkan sempat menyentuh titik terendah harian di 8.187 sebelum akhirnya terjadi trading halt,” kata Hendra, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa keputusan MSCI yang menahan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), tidak menambah bobot saham Indonesia, serta meniadakan rebalancing Februari 2026, secara langsung mematahkan ekspektasi masuknya dana pasif global. 

Pernyataan MSCI terkait transparansi free float dan struktur kepemilikan saham, serta peluang evaluasi lanjutan hingga Mei 2026, turut memperbesar persepsi risiko Indonesia di mata investor global.

Tekanan pasar tercermin dari lonjakan nilai transaksi yang mencapai sekitar Rp45 triliun, menandakan terjadinya distribusi saham secara besar-besaran. Hendra menilai pengujian area 8.180–8.200 menjadi krusial karena selama ini merupakan zona konsolidasi penting sebelum IHSG melanjutkan tren penguatannya.

“Jika level tersebut mampu dipertahankan, peluang stabilisasi tetap terbuka melalui akumulasi selektif oleh investor domestik jangka panjang. Namun jika tekanan berlanjut dan level ini ditembus, pasar berisiko menguji area psikologis berikutnya di kisaran 8.000 hingga 8.050,” kata dia..

Hendra menambahkan, di tengah tekanan yang tinggi, peluang rebound justru dapat terbentuk ketika fase kepanikan mereda dan pelaku pasar kembali bersikap rasional. Menurutnya, koreksi tajam yang terjadi tidak serta-merta mencerminkan perubahan fundamental, mengingat kondisi ekonomi domestik dan kinerja emiten secara agregat masih terjaga, ditopang pula oleh harga komoditas utama yang berada di level tinggi.

Dengan demikian, pergerakan IHSG ke depan akan sangat ditentukan oleh respons otoritas pasar modal dalam menindaklanjuti masukan MSCI, serta kemampuan indeks untuk bertahan di area support teknikal yang saat ini menjadi perhatian utama pelaku pasar.

(red)

TAG

No more pages
← Prev article

Artikel Terkait

Baca Juga

Lainnya

Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone