Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG mencatat penurunan terdalam nomor satu di Asia dan juga ASEAN sepanjang perdagangan hari ini, Rabu 28 Januari 2026.

IHSG berseberangan jauh dengan Bursa Saham Asia yang tengah melaju di zona hijau pada perdagangan hari ini.

Penguatan Bursa Asia dipimpin oleh KOSDAQ (Korea Selatan) yang menguat mencapai 4,7%, disusul oleh HANG SENG (Hong Kong) melesat 2,58%, Kospi (Korea Selatan) melejit 1,69%, Weighted Index (Taiwan) menguat 1,5%, PSEI (Filipina) meninggi 0,77%, SENSEX (India) terapresiasi 0,6%, SETI (Thailand) 0,33%, Shanghai Comp (China) 0,27%, CSI 300 (China) 0,26%, dan NIKKEI 225 yang juga menguat 0,05%.

Koreksi tajam IHSG terjadi di tengah sentimen kegelisahan pasar di mana MSCI memutuskan membekukan sementara proses rebalancing indeks untuk saham–saham di Indonesia, termasuk membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review bulan Februari 2026. 

MSCI menilai tingkat transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia masih belum memadai. Investor global masih melihat masalah mendasar terkait dengan tingginya konsentrasi kepemilikan serta indikasi potensi perdagangan terkoordinasi. 

Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, Kebijakan pembekuan sementara ini bertujuan mengurangi risiko turnover indeks dan masalah investability

“MSCI memberi waktu bagi otoritas pasar untuk melakukan perbaikan transparansi kepemilikan saham yang signifikan,” mengutip riset Phintraco Sekuritas, Rabu.

Jika hingga Mei 2026 tidak akan kemajuan yang signifikan, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia, yang dapat berpotensi pada penurunan bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Markets menjadi Frontier Market. 

MSCI Frontier Market Index mencerminkan kinerja pasar saham di negara–negara yang lebih kecil dan Kurang berkembang dibanding Emerging Markets. 

“Hal ini akan menjadi risiko yang lebih besar jika terjadi, karena dapat membuat dana investor asing yang keluar akan lebih banyak yang dapat menekan IHSG dan Rupiah,” terang Phintraco.

Selain itu juga dapat berdampak pada likuiditas pasar yang menurun, persepsi risiko negara memburuk serta biaya pendanaan yang dihadapi oleh pemerintah dan korporasi akan lebih tinggi.

Di sisi lain, bobot Indonesia di Frontier Market Index akan cenderung lebih besar dibanding dengan di Emerging Market Index. Setelah terjadi sell–off, ada potensi valuasi saham akan lebih murah dan harga saham akan kembali pada fundamentalnya, sehingga potensi untuk rebound masih terbuka ke depannya. 

“Namun, seberapa lama dan seberapa besar dampak kebijakan MSCI ini terhadap pasar modal Indonesia, akan tergantung pada bagaimana respon otoritas pasar modal untuk menindaklanjutinya,” tegas Phintraco.

Menyitir Panin Sekuritas, IHSG hari ini mengalami Trading Halt, dan ditutup di bawah MA–50 di level 8.698. Indikator stochastic death cross, hingga masih ada kemungkinan IHSG melanjutkan pelemahan menuju support psikologis 8.000.

“Critical area berada pada support 7.805 – 7.910. Jika area ini ditembus, maka trend sideways patah, dan memasuki trend bearish,” papar analisis Panin, Rabu.

(fad)

No more pages