Logo Bloomberg Technoz

“Kalau saya sih kebetulan menangani hanya masalah kebocorannya. Kalau bagaimana pemulihannya itu di Rokan,” ungkap dia.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mencatat penurunan produksi minyak di Blok Rokan gegara kebocoran pipa gas milik TGI.

Penurunan produksi itu mencapai sekitar 50.000—60.000 barel per hari (bph), dari kapasitas produksi sekitar 150.000 bph.

Situasi tersebut, kata Laode, sudah terjadi sejak awal 2026 sehingga total produksi yang hilang tercatat sekitar 2 juta barel.

“Kehilangan dalam waktu sekitar 20 hari itu mungkin sekitar 2 juta [bph]. Jadi kita ada PR menambah produksi seharinya itu antara 5.000 sampai 6.000 barel per hari,” kata Laode.

Sekadar catatan, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mencatatkan lifting minyak di Blok Rokan hingga akhir 2024 sebanyak 58 juta barel. Keseluruhan minyak tersebut disalurkan ke kilang domestik milik Pertamina.

Sejak alih kelola WK Rokan dari PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) ke Pertamina pada 9 Agustus 2021, PHR mencatatkan 1.539 tajak sumur baru. Per akhir 2024, PHR menghasilkan produksi di atas 160.000 bph.

Adapun, rata-rata produksi Blok Rokan adalah sekitar 160.500 bph, atau sekitar 24% dari produksi nasional pada akhir Juli 2021, sebelum alih kelola dari Chevron ke Pertamina.

Pada 2023, Blok Rokan berhasil menyalip capaian produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip Blok Cepu yang dioperatori oleh ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL).

(azr/naw)

No more pages