Soegiharto melihat kesempatan itu dan menggunakan hasil pembuangan tersebut sebagai bahan baku untuk membuat pulp dan kertas. Kondisi tersebut juga didukung karena kebanyakan industri kertas harus mengimpor bahan baku dari luar negeri.
Kala itu, pabrik Pakerin dimulai dengan satu mesin pembuatan pulp dari bagas, satu pengolahan air limbah, dan satu mesin kertas untuk memproduksi kertas duplex.
Pada 1980, Pakerin telah mengembangkan kapasitas produksi dari 15.000 ton per tahun menjadi kapasitas desain sebesar 700.000 ton per tahun, serta memperluas jangkauan produk. Selain kertas industri, pabrik tersebut juga memproduksi senyawa kimia anorganik, seperti soda, HCl, dan lainnya.
Adapun di Pakerin menggunakan bahan daur ulang untuk memenuhi lebih dari 80% kebutuhan serat dan menjadi pelopor dalam penggunaan ampas tebu, limbah batang tebu, sebagai sumber bubur kertas. Proses produksi perusahaan terintegrasi secara vertikal dan dilengkapi pembangkit tenaga listrik, mesin produksi kimia, dan pengolahan air yang efisien.
Dalam laman resminya, PT Pakerin dipimpin oleh Chief Executive Officer (CEO) David S. Kurniawan, Chief Financial Officer Suryomurti, Chief Operating Officer Hendrata Atmoko, dan Chief Business Development Officer (CBDO) John K. Young.
(ain)

























