Setelah mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 1979, emas telah naik lebih dari 15% sepanjang tahun ini, terutama didorong oleh apa yang disebut “perdagangan debasement”, di mana investor menjauh dari mata uang dan obligasi pemerintah AS atau Treasuries.
Aksi jual besar-besaran di pasar obligasi Jepang pekan lalu menjadi contoh terbaru penolakan investor terhadap belanja fiskal yang besar.
Dalam beberapa pekan terakhir, langkah-langkah pemerintahan Trump — serangan terhadap independensi Federal Reserve, ancaman aneksasi Greenland, serta intervensi militer di Venezuela — turut mengguncang pasar.
Bagi investor yang mencoba menavigasi ketidakpastian ini, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai jarang terlihat setinggi sekarang.
“Emas adalah kebalikan dari kepercayaan,” kata Max Belmont, manajer portofolio di First Eagle Investment Management.
“Ini adalah lindung nilai terhadap lonjakan inflasi yang tak terduga, penurunan pasar yang tak terantisipasi, serta memanasnya risiko geopolitik.”
Di luar faktor geopolitik, membengkaknya utang publik di negara-negara maju menjadi pilar lain reli emas. Sejumlah investor jangka panjang, yang meyakini inflasi akan menjadi satu-satunya jalan menuju solvabilitas negara, berbondong-bondong masuk ke emas untuk menjaga daya beli.
“Orang-orang menjadi jauh lebih khawatir terhadap lintasan utang jangka panjang dalam tiga tahun terakhir,” ujar John Reade, kepala strategi di World Gold Council.
“Tempat di mana argumen debasement dan utang paling terasa adalah di kalangan family office. Mereka memikirkan perlindungan kekayaan lintas generasi, bukan jangka pendek.”
Perdagangan debasement ini mencapai puncaknya pada akhir 2025, ketika investor terkemuka seperti CEO Citadel Securities Ken Griffin dan pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio menunjuk kenaikan emas sebagai sinyal peringatan.
Investor kini menanti pilihan Trump untuk ketua The Fed berikutnya setelah presiden AS mengatakan telah menyelesaikan wawancara kandidat dan menegaskan sudah memiliki sosok dalam pikirannya.
Ketua yang lebih dovish akan meningkatkan spekulasi pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini — kabar positif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil — setelah tiga kali penurunan berturut-turut.
Emas naik 1% ke US$5.035,25 per ons pada pukul 08.12 pagi waktu Singapura. Perak menguat 2,2% ke US$105,50. Platina sedikit melemah setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi, sementara paladium naik.
Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,2% setelah merosot 1,6% pekan lalu.
(bbn)



























