Logo Bloomberg Technoz

“Inflasi melambat karena efek kebijakan dan siklus kenaikan harga yang mulai mencapai puncaknya,” ujar Shinichiro Kobayashi, kepala ekonom di Mitsubishi UFJ Research & Consulting. “Meski melambat di akhir tahun, harga pangan tetap tinggi sepanjang tahun dan persepsi konsumen terhadap inflasi masih sangat berat.”

Dalam jangka panjang, data yang dirilis pada Jumat (23/1) ini menunjukkan momentum harga yang stabil, sehingga menjaga bank sentral tetap berada di jalur kenaikan suku bunga lanjutan. Sepanjang 2025, inflasi inti tercatat naik 3,1%, menandai tahun keempat berturut-turut kenaikan IHK melampaui target inflasi BOJ sebesar 2%. Kementerian menyebutkan, ini merupakan kali pertama hal tersebut terjadi untuk kategori ini sejak periode hingga 1992.

BOJ secara luas diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneternya ketika dewan mengumumkan keputusan dalam beberapa jam ke depan, dengan sebagian besar ekonom memproyeksikan kenaikan suku bunga berikutnya pada Juni atau Juli. Pelemahan yen menjadi salah satu faktor yang berpotensi mempercepat jadwal tersebut. Yen diperdagangkan di sekitar 158,45 per dolar AS pada Jumat pagi di Tokyo, tidak jauh dari ambang 160 yang dianggap sebagai batas psikologis, di mana otoritas Jepang melakukan intervensi berkali-kali pada 2024.

Perhatian pasar akan tertuju pada pernyataan Gubernur Kazuo Ueda dalam konferensi pers usai keputusan, saat ia memaparkan penilaiannya terhadap tren harga. Gubernur harus berhati-hati dalam menjelaskan tingkat urgensi kenaikan suku bunga berikutnya. Jika pernyataannya dinilai dovish, yen berpotensi kembali tertekan.

Bersamaan dengan keputusan suku bunga, bank sentral juga diperkirakan merilis laporan proyeksi ekonomi terbarunya. Dalam laporan yang dirilis Oktober lalu, BOJ menyebutkan bahwa indikator inflasi utamanya kemungkinan melambat ke bawah 2% hingga paruh pertama tahun fiskal 2026, seiring memudarnya dampak kenaikan harga pangan sebelumnya, seperti beras.

Kenaikan harga pangan sedikit mereda, dengan laju kenaikan harga makanan olahan melambat menjadi 6,7%, sementara indeks seluruh makanan naik 5,1%, turun dari 6,1%. Kenaikan harga beras melambat menjadi 34,4% dari 37,1% pada November.

Jumlah kenaikan harga oleh perusahaan makanan besar diperkirakan mencapai sekitar 3.600 kali antara Januari hingga April, sekitar 40% lebih sedikit dibandingkan setahun sebelumnya, menurut laporan Teikoku Databank bulan lalu.

Meredanya inflasi pangan diharapkan memberi sedikit kelegaan setelah lonjakan biaya kebutuhan sehari-hari menekan rumah tangga. Kekecewaan atas melonjaknya biaya hidup menjadi faktor utama yang memicu kemunduran Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa dalam dua pemilu nasional sebelum Takaichi menjabat.

Dengan perdana menteri menyerukan pemilu dadakan pada 8 Februari, biaya hidup sehari-hari akan menjadi perhatian utama. Tren terkini belum menggembirakan. Porsi belanja pangan dalam total konsumsi rumah tangga—yang dikenal sebagai koefisien Engel—mencapai 28,9% pada November, tertinggi untuk bulan tersebut sejak data sebanding tersedia pada 2000.

Selain itu, survei BOJ yang dirilis awal pekan ini menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang rumah tangga Jepang masih mendekati rekor tertinggi. Harga diperkirakan naik rata-rata 11,6% dalam satu tahun ke depan, sedikit turun dari 11,9% pada survei sebelumnya.

Pelemahan yen menjadi faktor kunci karena mendorong naik biaya impor.

Takaichi berjanji akan menangguhkan pajak 8% atas pembelian makanan dan minuman nonalkohol selama dua tahun jika ia dan LDP memenangkan pemilu bulan depan.

Janji tersebut melengkapi paket stimulus terbaru yang diluncurkan pada Desember. Pemerintah memperkirakan langkah-langkah tersebut secara bersama-sama akan menurunkan inflasi keseluruhan rata-rata 0,7 poin persentase pada periode Februari hingga April.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Takaichi tetap tinggi secara historis, berada di atas 60%, dengan hampir separuh responden menyebut penurunan tekanan harga sebagai prioritas utama pemerintahannya.

“Jika yen terus melemah, hal itu bisa memajukan waktu kenaikan suku bunga BOJ berikutnya,” kata Kobayashi. “Namun, lingkungan kebijakan tidak sesederhana keputusan yang hanya didasarkan pada tren inflasi atau nilai tukar, karena BOJ juga perlu mencermati perkembangan imbal hasil obligasi jangka panjang dengan hati-hati.”

(bbn)

No more pages