“Pelebaran selisih suku bunga tersebut dapat meningkatkan daya tarik aset dalam negeri bagi investor asing karena imbal hasil yang diharapkan menjadi lebih tinggi,” tulis riset Phintraco tersebut.
Secara year–to–date/ytd atau sepanjang tahun 2026 sampai dengan 14 Januari, aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia saat ini menunjukkan inflow di pasar saham dan pasar obligasi. Namun terjadi arus modal keluar di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Adapun pasar saham mencatatkan inflow sejak Oktober 2025 sampai dengan Januari 2026 yang mencerminkan sentimen positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang didukung dari revisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari IMF menjadi 5,1% untuk 2026.
Momentum inflow berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten perbankan, properti, dan otomotif, yang dinilai diuntungkan dari keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuan pada bulan ini.
Langkah BI Rate yang ditahan merupakan positif bagi pasar saham, terutama untuk saham yang sensitif terhadap suku bunga acuan.
Katalis lain yang dinilai akan jadi pendorong tambahan adalah penguatan disiplin fiskal, stabilisasi rupiah, serta menjaga independensi BI, dengan menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan triple intervention, serta mempertahankan independensi dan tata kelola yang kuat.
Mengutip riset RHB Sekuritas pagi ini, ke depan fokus bank sentral kemungkinan akan diarahkan pada percepatan transmisi suku bunga kebijakan ke suku bunga kredit, termasuk melalui peningkatan efektivitas kebijakan Macroprudential Liquidity Incentive (MLI) guna mempercepat pass-through suku bunga dan mendukung pertumbuhan kredit serta pembiayaan di sektor riil.
Seperti yang dipaparkan sebelumnya oleh RHB, sentimen potensial tersebut ditujukan untuk memperkuat likuiditas sistem perbankan. Berpotensi menggenjot penyaluran kredit serta mendukung penciptaan lapangan kerja.
Kebijakan ini akan memberikan dorongan lebih bagi sejumlah bank, utamanya bagi bank milik negara, termasuk di antaranya saham BBRI, saham BMRI, saham BBNI, dan juga saham BBTN.
Preferensi lainnya juga terhadap saham BBCA, saham BRIS. Juga emiten properti seperti CTRA. Saham otomotif turut dilirik dengan pilihan saham AUTO ASII.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
BBRI
- Buy: 31 Analis
- Hold: 5
- Sell: 2
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp4.550/saham
Ivan Ng, Analis Autonomous Research, menyematkan rekomendasi outperform saham BBRI dengan target harga Rp4.500/saham. Ferry Wong, Analis Citi memberikan rekomendasi beli saham BRI dengan target harga mencapai Rp4.700/saham.
BMRI
- Buy: 28 Analis
- Hold: 6
- Sell: 3
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp5.523/saham
Jayden Vantarakis, Analis Macquarie, memberikan peringkat outperform kepada saham BMRI dengan target harga Rp5.330/saham. Jovent Muliadi, Analis Indo Premier Sekuritas Indonesia, memberikan rekomendasi buy dengan target harga mencapai Rp6.400/saham.
BBNI
- Buy: 31 Analis
- Hold: 3
- Sell: 1
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp5.133/saham
Kresna Hutabarat, Analis Mandiri Sekuritas, memberikan rekomendasi beli pada saham BBNI dengan target harga mencapai Rp5.300/saham. Erwin Wijaya, Analis Verdhana Sekuritas Indonesia, memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp5.500/saham.
BBTN
- Buy: 16 Analis
- Hold: 6
- Sell: 2
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp1.353/saham
Yap Swie Cu, Analis Yuanta Investment Consulting, memberikan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp1.600/saham. Senada dengan Kresna Hutabarat dari Mandiri Sekuritas yang memberikan rekomendasi buy dengan target harga mencapai Rp1.500/saham.
BBCA
- Buy: 36 Analis
- Hold: 1
- Sell: 0
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp10.305/saham
Posmarito Pakpahan, Analis UOB Kay Hian, memberikan rekomendasi buy saham BBCA dengan target harga Rp10.100/saham. Lebih potensial, Muhammad Nur Kholis Syafruddin dari DBS Bank memberikan rekomendasi buy dengan target harga mencapai Rp11.700/saham.
BRIS
- Buy: 24 Analis
- Hold: 0
- Sell: 0
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp3.218/saham
Ferry Wong dari Citi memberikan rekomendasi dengan rekomendasi buy saham BRIS dengan target harga Rp3.440/saham. Lebih tinggi, Joshua Tanja dari UBS memberikan rekomendasi buy dengan target harga mencapai Rp3.800/saham.
CTRA
- Buy: 20 Analis
- Hold: 0
- Sell: 0
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp1.273/saham
Robin Sutanto, Analis Mandiri Sekuritas, memberikan rekomendasi beli saham CTRA dengan target harga mencapai Rp1.330/saham. Kevin Halim, Analis Maybank Investment Banking Group, memberikan rekomendasi buy dengan target Rp1.300/saham.
AUTO
- Buy: 10 Analis
- Hold: 0
- Sell: 0
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp3.150/saham
RHB Research memberikan rekomendasi buy saham AUTO dengan target harga Rp3.350/saham. Baru–baru ini, Farah Rahmi Oktaviani dari Mandiri Sekuritas memberikan rekomendasi buy dengan target harga mencapai Rp2.800/saham.
ASII
- Buy: 26 Analis
- Hold: 9
- Sell: 0
Target harga 12 Bulan ke depan: Rp7.046/saham
Ariyanto Jahja, Analis Macquarie memberikan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga mencapai Rp7.200/saham. Divya Gangahar Kothiyal, Analis Morgan Stanley, memberikan rekomendasi overweight/attractive dengan target harga Rp8.200/saham.
(fad/aji)



























