Logo Bloomberg Technoz

Saat ditanya sejauh mana ia bersedia melangkah untuk mengamankan pulau tersebut, Trump mengatakan kepada wartawan: “Anda akan lihat nanti.”

Kemunculan langka presiden di ruang pengarahan Gedung Putih itu terjadi menjelang keberangkatannya pada Selasa malam dari Washington menuju Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Di sana, ia akan berhadapan langsung dengan para pemimpin Eropa yang murka atas upayanya mengambil alih wilayah milik sesama sekutu NATO, Denmark.

“Uni Eropa dan Amerika Serikat telah menyepakati perjanjian dagang pada Juli lalu,” kata von der Leyen. “Dalam politik seperti dalam bisnis, kesepakatan adalah kesepakatan. Dan ketika para sahabat berjabat tangan, itu harus bermakna.”

Dalam wawancara lanjutan dengan NewsNation, Trump mengisyaratkan bahwa ia memandang perjanjian tersebut sebagai alasan Eropa tidak akan menindaklanjuti ancaman mereka, sembari menepis pernyataan pejabat Eropa yang mengancam akan menggunakan “bazooka” perdagangan sebagai balasan.

“Saya rasa mereka tidak benar-benar tahu apa arti bazooka,” ujar Trump. “Dan Anda tahu — apa pun yang mereka lakukan terhadap kami, saya akan membalasnya. Yang harus saya lakukan hanya membalas, dan itu akan memantul kembali ke arah mereka.”

Trump juga kembali menyuarakan kekecewaannya terhadap denda Eropa terhadap perusahaan teknologi AS, termasuk Apple Inc.

Keretakan hubungan transatlantik akibat ambisi presiden AS itu membayangi pertemuan tahunan para elite keuangan dan politik dunia, serta memperburuk hubungan Washington dengan sejumlah sekutu utama.

Trump secara umum memprediksi bahwa dalam “banyak pertemuan yang dijadwalkan soal Greenland” pekan ini di Davos, “semuanya akan berjalan cukup baik, sebenarnya.”

Ia juga meremehkan kritik dari para pemimpin Eropa, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dengan mengatakan ia memperkirakan sambutan yang lebih hangat saat bertemu langsung.

“Mereka selalu memperlakukan saya dengan baik,” kata Trump. “Mereka memang agak keras ketika — Anda tahu, ketika saya tidak ada. Tapi saat saya ada, mereka memperlakukan saya dengan sangat baik.”

Trump dalam beberapa hari terakhir meningkatkan kampanye tekanannya, termasuk dengan mengancam akan memberlakukan tarif atas barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia jika negara-negara itu terus menentang rencananya. Ambisi Trump untuk mengambil alih pulau tersebut sebenarnya sudah muncul sejak masa jabatan pertamanya.

Pungutan tarif itu berpotensi semakin mengguncang pasar yang telah melihat saham dan dolar AS melemah setelah ancaman Trump, sementara harga emas menembus rekor tertinggi sepanjang masa.

Trump juga menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer untuk merebut pulau itu tetap menjadi opsi — sebuah langkah yang, menurut Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen awal bulan ini, akan berarti berakhirnya NATO.

Meski potensi invasi tersebut masih dianggap tidak mungkin, perdana menteri Greenland mengatakan pada Selasa bahwa otoritas setempat perlu mulai bersiap, seraya menambahkan bahwa konflik militer “tidak bisa dikesampingkan.”

Trump sebelumnya pada Selasa mengumumkan bahwa ia akan bertemu sejumlah pihak di Davos untuk membahas Greenland dan menepis anggapan bahwa Eropa akan “melawan terlalu keras” terhadap rencananya.

Trump berpendapat AS harus menguasai pulau tersebut demi kepentingan nasionalnya, dengan mengklaim kegagalan melakukan hal itu akan membuat Greenland rentan terhadap pengaruh Rusia dan China. Ia juga mengatakan Denmark dan mitra NATO lainnya telah lalai meningkatkan keamanannya.

Pada Selasa, Trump menepis pertanyaan apakah tindakannya membahayakan aliansi transatlantik yang menjadi fondasi tatanan global pasca-Perang Dunia II.

“Saya pikir kita akan menemukan jalan keluar di mana NATO akan sangat senang dan kami juga akan sangat senang,” kata Trump. “Namun kami membutuhkannya untuk alasan keamanan. Kami membutuhkannya untuk keamanan nasional dan bahkan keamanan dunia. Ini sangat penting.”

Trump juga mengaitkan klaimnya atas wilayah tersebut dengan kegagalannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian, dengan menyatakan bahwa Norwegia mengendalikan proses tersebut, meskipun keputusan penerima Nobel ditetapkan oleh komite independen, bukan pemerintah. Pada Selasa, ia mengulangi tudingan itu dan mengatakan, “jangan biarkan siapa pun memberi tahu Anda bahwa Norwegia tidak mengendalikan segalanya.”

Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam serangkaian wawancara pada Selasa di Davos, berulang kali mendesak mitra dagang AS untuk tidak melakukan pembalasan atas ancaman tarif Trump jika mereka tidak memenuhi tuntutannya terkait Greenland. Ia juga meminta para pemimpin untuk mendengarkan langsung penjelasan presiden selama kunjungannya.

“Saya yakin para pemimpin tidak akan meningkatkan eskalasi, dan ini akan berakhir dengan hasil yang sangat baik,” kata Bessent dalam konferensi pers, Selasa.

Bessent, seperti Trump, juga menepis kemungkinan Eropa akan merespons secara keras. Ketika ditanya secara spesifik tentang risiko Eropa menjual obligasi pemerintah AS — sebuah langkah balasan yang dapat berdampak besar pada pasar — ia menyebut spekulasi tersebut sebagai “narasi yang keliru.”

Negara-negara Eropa memegang triliunan dolar dalam bentuk obligasi dan saham AS, sebagian di antaranya berada di dana sektor publik. Penjualan aset semacam itu berpotensi mendorong naik biaya pinjaman dan menekan pasar saham, mengingat ketergantungan AS pada modal asing. Namun, sebagian besar analis pasar menilai kecil kemungkinan para pembuat kebijakan akan melangkah sejauh itu.

Macron juga sempat mengemukakan opsi untuk mengaktifkan instrumen anti-pemaksaan Uni Eropa guna melawan AS, meski Kanselir Jerman Friedrich Merz meredam gagasan tersebut.

(bbn)

No more pages