Keputusan mempertahankan BI Rate di 4,75% menegaskan sikap BI untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Bagi investor, terutama di pasar keuangan jangka pendek, konsistensi sering kali lebih bernilai dibandingkan keberanian yang spekulatif. Keputusan untuk hold the line membantu meredam ekspektasi negatif dan menjaga daya tarik aset domestik.
"Sebagai bentuk upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global dan inflasi 2026-2027," kata Perry Warjiyo setelah Rapat Dewan Gubernur, Rabu (21/1/2026).
Di sisi domestik, tantangan fiskal dan struktural tetap menjadi faktor penentu keberlanjutan stabilitas nilai tukar ini. Ketergantungan pada impor tertentu, defisit transaksi berjalan yang sensitif terhadap siklus komoditas, serta kebutuhan pembiayaan anggaran yang besar membuat rupiah tetap rentan terhadap perubahan sentimen global.
(dsp/aji)





























