"Ini adalah fenomena 'Sell America' yang terjadi di tengah sentimen risk-off global yang jauh lebih luas," ujar Krishna Guha dari Evercore. "Investor global mulai berupaya mengurangi atau melindungi nilai (hedging) eksposur mereka terhadap AS yang dianggap tidak dapat diprediksi. Yang masih harus ditentukan adalah seberapa besar dan berapa lama dinamika ini akan berlangsung.”
Aksi jual global bermula dari masalah domestik di Jepang, ketika imbal hasil obligasi 30 tahun melonjak lebih dari seperempat poin persentase di tengah kekhawatiran atas rencana Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk memangkas pajak dan meningkatkan belanja. Lonjakan tersebut mengancam keberlanjutan strategi carry trade — yakni pembelian aset global menggunakan pinjaman berbunga rendah di Jepang — serta turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi di negara lain.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyerukan ketenangan kepada pelaku pasar. Ia menyoroti rendahnya ketergantungan Jepang pada penerbitan utang dalam 30 tahun terakhir, meningkatnya penerimaan pajak, serta defisit fiskal terkecil di antara negara-negara G-7 sebagai bukti bahwa kebijakan fiskal pemerintah bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Di tempat lain, dana pensiun Denmark AkademikerPension menyatakan akan keluar dari obligasi pemerintah AS pada akhir bulan ini, dengan alasan pemerintahan Trump telah menciptakan risiko kredit yang terlalu besar untuk diabaikan.
“Pada dasarnya AS bukanlah kredit yang baik, dan dalam jangka panjang keuangan pemerintah AS tidak berkelanjutan,” ujar Anders Schelde, kepala investasi AkademikerPension, kepada Bloomberg pada Selasa (20/1).
Menteri Keuangan AS Scott Bessent meminta pasar tetap tenang, menyamakan kehebohan soal Greenland dengan apa yang ia sebut sebagai “histeria” setelah Trump mengumumkan tarif besar-besaran pada April lalu. Trump dijadwalkan tiba di Davos pada Rabu untuk menghadiri World Economic Forum.
Meski pelaku pasar sebelumnya mampu melewati berbagai perkembangan tak terduga sepanjang tahun ini — termasuk langkah Gedung Putih menangkap pemimpin Venezuela serta serangan baru terhadap Federal Reserve (Bank Sentral AS) — besarnya pergerakan pasar kali ini menunjukkan bahwa kesabaran investor terhadap guncangan mulai menipis.
“Perang Tarif 2.0, atau Perang Wilayah 1.0 jika Anda mau, kini berlangsung penuh dan berpotensi menimbulkan gangguan pasar signifikan dalam jangka pendek,” kata Victoria Greene dari G Squared Private Wealth. “Banyak hal bergantung pada bagaimana beberapa pekan ke depan berjalan. Jadi kami tidak melakukan ‘panic selling’, tetapi mengamati dengan cermat dan bersiap menghadapi volatilitas.”
Sementara itu, Korea Selatan disebut akan menunda realisasi komitmen investasinya hingga US$20 miliar di AS tahun ini, menyusul tekanan terhadap mata uang won, menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Di sektor korporasi, saham Netflix Inc turun setelah perusahaan memperingatkan peningkatan belanja program serta biaya penutupan kesepakatan dengan Warner Bros.
(bbn)




























