Di sisi lain, menanggapi pertanyaan mengenai kesiapan Pertamina menjadi pemasok tunggal BBM nasional, termasuk bagi SPBU swasta, Roberth menegaskan perseroan masih menunggu implementasi kebijakan tersebut di lapangan.
Pada prinsipnya, kata Roberth, Pertamina akan mengikuti seluruh arahan pemerintah terkait penyediaan dan pendistribusian energi di dalam negeri.
"Pertanyaan ini akan terjawab nanti pada saat wacana-wacana tersebut di atas dilaksanakan, seperti yang disampaikan Presiden bahwa [Pertamina] akan menjawab dengan bukti," tekannya.
Sebelumnya, dengan tidak menerbitkan rekomendasi kuota impor solar sejak awal tahun ini bagi SPBU swasta, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meyakini Indonesia akan mengalami surplus solar setelah beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan.
Bahlil menjelaskan jika terdapat impor solar yang masih masuk ke Tanah Air pada awal tahun ini, hal tersebut dilakukan BU hilir migas swasta dengan menggunakan sisa kuota impor tahun lalu.
“Kita sudah mulai tahun ini, saya tidak lagi mengeluarkan impor solar. Izin impor solar mulai tahun ini enggak lagi. Andaikan ada yang masuk di bulan ini atau bulan depan, itu berarti sisa impor 2025,” kata Bahlil kepada awak media, di kawasan RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).
“Akan tetapi, tahun ini Kementerian ESDM atas perintah Bapak Presiden, karena kita punya kilang sudah ada, kita tidak lagi mengeluarkan [rekomendasi kuota] impor,” tegas Bahlil.
Adapun, Presiden Prabowo telah meresmikan RDMP Balikpapan pada Senin (12/1/2026). Dalam kesempatan itu, Bahlil menjelaskan proyek tersebut memiliki nilai investasi US$7,4 miliar atau sekitar Rp124 triliun.
Dia juga mengklaim proyek tersebut merupakan RDMP terbesar yang ada di Indonesia.
Bahlil menyatakan RDMP Balikpapan adalah proyek revitalisasi kilang terbaru yang dijalankan di Indonesia usai terakhir terdapat proyek serupa pada 1994 atau sekitar 32 tahun lalu.
Di sisi lain, dia menungkapkan RDMP Balikpapan turut memproduksi bensin, gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), dan produk petrokimia seperti bahan baku plastik yakni propylene.
“Nah, ini begitu terjadi, begitu diresmikan, maka insyallah produk-produknya ini kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar,” tegas Bahlil.
Terakit dengan produksi bensin, Bahlil menyatakan proyek RDMP Balikpapan akan menambahkan produksi bensin Tanah Air sekitar 5,8 juta kiloliter (kl).
“Impor kita sekarang kan 24 juta kl, karena produksi dalam negeri kita 14 juta. Dengan penambahan 5,8 [juta kl] maka total produksi dalam negeri kita itu mencapai hampir 20 juta kl. Jadi kita impor kita itu kurang lebih sekitar 18—19 juta kl,” ucap Bahlill.
(prc/wdh)






























