Saham–saham barang baku, saham perindustrian, dan saham properti menjadi pendorong penguatan IHSG dengan menguat mencapai 2,67%, 2,11% dan 1,77%.
Di samping itu, saham–saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya saham PT Xolare Rcr Energy Tbk (SOLA) yang melesat 34,6%, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) melonjak 34,3%, dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH) melejit 25%.
Sedangkan saham–saham yang melemah dan menjadi top losers antara lain saham PT Golden Flower Tbk (POLU) yang jatuh 14,89%, PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) drop 14,8%, dan PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) amblas 14,6%.
Bursa saham Asia lainnya berkerak variatif. NIKKEI 225 (Jepang), KOSPI (Korea Selatan), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), Straits Times (Singapura), dan TW Weighted Index (Taiwan) berhasil ditutup menguat.
Di sisi berseberangan, Shenzhen Comp. (China), Shanghai Composite (China), SETI (Thailand), SENSEX (India), PSEI (Filipina), dan KOSDAQ (Korea) harus puas menutup hari di jalur merah.
Sentimen yang mewarnai IHSG dan bursa saham Asia hari ini datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali mengguncang panggung Internasional. Setelah menahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan menyebabkan ketidakstabilan geopolitik, saat ini Trump mengancam bakal menaikkan tarif dagang kepada negara-negara yang bermitra dengan Iran.
Dalam cuitannya di media sosial, Trump mengancam “negara manapun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran, akan dikenakan tarif 25% untuk semua bisnis yang dilakukan dengan AS.”
Kembali membuat pasar gelisah. Ini merupakan kali ketiga Trump mengancam tarif untuk memajukan agenda kebijakan luar negeri AS. Dalam dua kasus sebelumnya, tidak ada tindak lanjut atau penegakan hukum yang selektif.
China merupakan mitra dagang Iran, baik impor maupun ekspor. Iran bergantung pada China untuk ekspor minyak. Selain China, mitra dagang utama Iran di antaranya, Uni Emirat Arab, Turki, dan Uni Eropa.
Secara tidak langsung, AS memberi ancaman perdagangan dan dapat menimbulkan perang dagang baru di tengah kondisi pasar global yang sudah rentan.
(fad/aji)






























