Defisit yang melebar berpotensi menurunkan daya tarik aset keuangan domestik dan meningkatkan premi risiko Indonesia di mata investor asing. Tekanan tersebut tercermin di pasar obligasi, di mana imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat meningkat, mengindikasikan aksi jual yang mulai terjadi seiring pasar merespons naiknya risiko fiskal.
Di luar faktor domestik, volatilitas global yang makin intens turut menjadi pemberat utama. Ketidakpastian geopolitik kembali mengemuka menyusul eskalasi konflik di Venezuela pascaintervensi militer Amerika Serikat, serta meningkatnya ketegangan di Iran yang memunculkan risiko gangguan pasokan energi.
Rangkaian ketegangan global tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS dan mengalihkan arus modal ke aset lindung nilai seperti emas. Meski konflik di Venezuela tidak berdampak langsung terhadap perdagangan Indonesia, efek rambatannya melalui pasar keuangan global tetap signifikan.
Dalam iklim ketidakpastian yang tinggi, investor global cenderung menghindari aset negara berkembang, terutama negara yang dinilai belum menawarkan kepastian fundamental dalam jangka pendek.
(riset/aji)




























