Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja fundamental emiten, melainkan juga oleh berbagai faktor lain, baik dari dalam negeri maupun global.
“Namun demikian, yang penting juga untuk dicermati yaitu bahwa pergerakan indeks selain dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental emiten, juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti yang terjadi di domestik maupun yang terjadi di global, ujarnya.
Sejalan dengan itu, OJK terus mengingatkan investor agar tetap mengedepankan kewaspadaan dan pengelolaan risiko dalam mengambil keputusan investasi.
“Dan tentunya kami tidak pernah jenuh untuk selalu mengingatkan bahwa keputusan dalam berinvestasi tetap perlu diiringi dengan kewaspadaan dan juga pengelolaan risiko yang baik. Kami dari sisi regulator terus memastikan bahwa pasar berjalan secara teratur, wajar dan juga efisien,” kata Inarno.
OJK juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem pasar modal yang sehat dan berintegritas agar potensi pertumbuhan IHSG dapat tercapai secara berkelanjutan, bukan hanya didorong oleh momentum jangka pendek.
Optimisme terhadap prospek IHSG sebelumnya juga disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai penguatan IHSG, yang sempat menembus level 9.000, mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian nasional.
Menurut Purbaya, aliran dana investor ke pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan perbaikan sentimen, baik dari investor domestik maupun global.
“Kalau kita lihat kan tiga bulan terakhir sudah positif terus flow-nya ke kita. Itu menunjukkan ada perbaikan sentimen investor domestik maupun global terhadap perekonomian Indonesia yang ke depan harus terus dijaga. Kalau begitu, tahun ini IHSG ke 10.000 enggak susah-susah amat,” ujar Purbaya saat doorstop media usai konferensi pers APBN KiTa di Aula Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta Kamis sore (8/1/2026).
Meski demikian, Purbaya menekankan pentingnya pembenahan fondasi pasar modal, khususnya penuntasan praktik manipulasi saham, sebelum melangkah ke agenda perubahan struktural seperti demutualisasi bursa.
“Saya belum tahu, bisa ditanyakan ke OJK. Kalau pandangan saya sih, beresin dulu ‘tukang goreng-goreng’ itu baru demutualisasi,” tegasnya.
Sepanjang 2025, pasar modal Indonesia mencatatkan kinerja yang solid. OJK mencatat rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham pada Desember 2025 mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar Rp27,19 triliun dan konsisten berada di atas Rp20 triliun sejak 20 Agustus 2025. Secara kumulatif, RNTH sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp18,07 triliun, Meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang sebesar Rp 12,85 triliun.
Penguatan likuiditas tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas investor ritel domestik, dengan proporsi transaksi ritel naik dari 38% pada 2024 menjadi 50% sepanjang 2025.
Dari sisi basis investor, jumlah investor pasar modal pada Desember 2025 bertambah 694 ribu, sehingga secara tahunan meningkat 5,49 juta menjadi 20,36 juta investor.
Seiring dengan peningkatan aktivitas tersebut, IHSG ditutup di level 8.646,94 pada 31 Desember 2025, mencatatkan kenaikan 1,62% secara bulanan dan 22,13% secara tahunan.
Sepanjang 2025, IHSG mencetak rekor all time high sebanyak 24 kali, dengan level tertinggi di 8.710,70 pada 8 Desember 2025, bersamaan dengan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp16.000 triliun.
(dhf)




























