Pejabat Denmark telah berulang kali memanggil duta besar AS untuk menyampaikan protes. Pada Desember, badan intelijen Denmark untuk kali pertama menyebut AS sebagai potensi ancaman keamanan.
Pemerintahan Trump membingkai intervensinya di Venezuela sebagai tafsir modern dari Doktrin Monroe abad ke-19, di mana AS menyatakan Benua Amerika Barat sebagai wilayah yang dilarang untuk dijajah oleh negara lain. Logika itu, secara teori, bisa diperluas ke Greenland juga.
Operasi militer di sana akan mewakili eskalasi serius. AS telah lama memandang Venezuela sebagai musuh dan tidak mengakui Presiden Nicolas Maduro sebagai pemimpin yang sah. Denmark adalah mitra dekat AS dan sesama anggota NATO. Penggunaan kekuatan terhadap Greenland akan membuat sekutu NATO saling bermusuhan dan memicu krisis eksistensial bagi aliansi militer tersebut.
Washington menuduh pemerintah Venezuela telah memicu ketidakstabilan regional dan mendukung perdagangan narkoba. Baik Greenland maupun Denmark tidak menimbulkan ancaman bagi keamanan AS.
Setelah operasi AS di Venezuela, PM Denmark Frederiksen mendesak Trump agar berhenti mengancam akan mengambil alih Greenland, menekankan bahwa pulau tersebut dilindungi oleh jaminan pertahanan kolektif NATO, dan AS sudah memiliki akses militer yang luas ke pulau itu berdasarkan perjanjian yang ada.
"Saya perlu mengatakan ini dengan sangat jelas kepada AS," kata Frederiksen dalam pernyataan pada 4 Januari. "AS tidak berhak untuk mencaplok salah satu dari tiga negara Kerajaan Denmark."
Mengapa Trump menginginkan Greenland?
Seperti yang pasti diketahui Trump, para pemimpin AS lainnya telah mengukir sejarah dengan ide-ide besar semacam itu. Andrew Johnson dikenang sebagai presiden yang mengawasi akuisisi Alaska dari Rusia pada tahun 1867.
Ketika pertama kali mengusulkan membeli Greenland pada tahun 2019, Trump mempresentasikannya sebagai "kesepakatan real estat besar" yang akan meringankan keuangan negara Denmark. Argumennya kali ini bahwa kendali AS atas pulau tersebut sangat penting bagi keamanan nasional.
Presiden mengatakan Denmark tidak banyak berinvestasi untuk melindungi pulau tersebut. Kopenhagen telah mengalihkan sejumlah besar dana ke wilayah otonom berpenduduk 57.000 jiwa tersebut, termasuk miliaran dolar untuk pertahanan dan infrastruktur.
"Mereka memiliki populasi yang sangat kecil, dan saya tidak tahu—mereka mengatakan Denmark, tapi Denmark tidak mengeluarkan uang. Mereka tidak memiliki perlindungan militer," klaim Trump pada 22 Desember.
"Mereka mengatakan Denmark ada di sana 300 tahun lalu atau semacamnya, dengan kapal. Nah, kami juga pernah ada di sana dengan kapal, saya yakin. Jadi, kita harus menyelesaikan semuanya."
Apa kepentingan AS di Greenland?
Pulau tersebut telah lama menjadi pusat ketegangan di antara kekuatan global.
Lebih besar dari Meksiko dan Arab Saudi, Greenland terletak di lokasi strategis yang membentang dari Samudra Atlantik Utara dan Arktik, wilayah yang kaya akan cadangan mineral kritis dan bahan bakar fosil yang diincar oleh AS dan rival strategisnya, China dan Rusia.
Peningkatan pencairan lapisan es Greenland akibat perubahan iklim berpotensi membuat cadangan tersebut lebih mudah diakses, sekaligus membuka jalur pelayaran yang lebih pendek untuk perdagangan antara Amerika Utara, Eropa, dan Asia.
Greenland merupakan rumah bagi pangkalan udara paling utara AS dan stasiun radar yang digunakan untuk mendeteksi ancaman rudal dan memantau ruang angkasa. AS pernah memiliki jejak militer yang jauh lebih besar di pulau tersebut: Selama Perang Dingin, AS mengoperasikan belasan instalasi militer di sana, sebelum menguranginya selama puluhan tahun.
Frederiksen menyatakan ia terbuka untuk mengizinkan AS meningkatkan militernya di wilayah tersebut. Berdasarkan perjanjian yang ada, Washington berhak untuk melakukannya, asalkan berkonsultasi dan memberi tahu Denmark dan Greenland.
Bagaimana perasaan penduduk Greenland jika menjadi bagian dari AS?
Jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk pulau tersebut menolak gagasan bergabung dengan AS.
Setelah pemilihan umum Maret 2025, para pemimpin semua partai politik Greenland bersatu mengutuk pendekatan presiden AS, menyebut perilakunya "tidak dapat diterima."
PM Jens-Frederik Nielsen dengan tegas menyatakan bahwa "Greenland bukanlah rumah yang bisa Anda beli" dan penduduk Greenland perlu lebih tegas dalam menghadapi Trump. Meski demikian, sebagian besar anggota parlemen di Greenland terbuka untuk melakukan lebih banyak bisnis dengan AS.
Bisakah Trump menguasai Greenland tanpa menggunakan kekerasan?
Ketika Trump mengemukakan ide untuk membeli Greenland pada 2019, Profesor Rasmus Leander Nielsen dari Universitas Greenland mengatakan kepada media lokal bahwa Denmark tidak bisa menjual Greenland karena UU otonominya tahun 2009 "dengan jelas menyatakan bahwa warga Greenland adalah rakyat mereka sendiri."
Harapan terbaik Trump untuk mendapatkan Greenland melalui persetujuan adalah jika wilayah tersebut memperoleh kemerdekaan terlebih dahulu, kemudian mencapai kesepakatan untuk menjadi bagian dari AS.
Ternyata, pembicaraan tentang pemisahan diri dari Denmark telah lama berlangsung di Greenland, meski kemerdekaan penuh kemungkinan besar tidak akan terwujud dalam beberapa tahun ke depan.
Ketertarikan Trump yang semakin besar terhadap Greenland menimbulkan kekhawatiran, bahkan ketakutan, di antara penduduknya tentang apa yang akan terjadi jika mereka memisahkan diri dari Denmark terlalu cepat. Kekhawatiran tersebut ditegaskan dalam Pemilu Maret lalu, di mana tiga dari empat pemilih Greenland memilih partai-partai yang mendukung langkah perlahan menuju kemerdekaan.
(bbn)






























