Logo Bloomberg Technoz

Chen menyarankan agar platform membatasi jumlah waktu akses aplikasi setiap hari, berdasarkan kelompok usia yang berbeda.

“Ada keseimbangan yang rumit antara apa yang akan menarik perhatian pengguna dan apa yang akan menghasilkan lebih banyak uang versus apa yang sebenarnya bermanfaat,” ujar dia.

Kekhawatiran Chen ini mencerminkan pernyataan Chief Executive Officer (CEO) OpenAI Sam Altman soal media sosial (medsos). Dalam sebuah siniar (podcast) yang telah ditayangkan beberapa waktu lalu, Altman mengkhawatirkan tentang dampak psikologis yang bisa ditimbulkan dari platform medsos terhadap penonton usia anak.

“Saya memang khawatir tentang anak-anak yang terpapar teknologi. Saya pikir tayangan video singkat yang memberikan sensasi dopamin ini, sepertinya mengganggu perkembangan otak anak-anak secara mendalam,” tutur dia.

Para akademisi turut memperingatkan terkait anak-anak dan kebiasaan mereka menggulir layar atau scrolling. Salah seorang profesor di NYU Stern School of Business, Jonathan Haidt mengatakan kepada Business Insider pada Januari 2025 bahwa aplikasi medsos sangat merusak anak-anak di dunia Barat.

Haidt juga telah menulis buku berjudul “The Anxious Generation” (generasi yang cemas). Di mana dia berpendapat medsos dan ponsel pintar atau smartphone dapat memperpendek rentang perhatian (attention span) kaum muda.

“Berkurangnya perhatian manusia di seluruh dunia mungkin bahkan merupakan kerugian yang lebih besar bagi umat manusia daripada epidemi kesehatan mental dan penyakit mental,” pungkas Haidt.

(far/wep)

No more pages