Bukan Koalisi, Prabowo Akui Dukung PDIP di Pilkada Jakarta
Dovana Hasiana
06 January 2026 11:50

Bloomberg Technoz, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyinggung posisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berada di luar Kabinet Merah Putih. Kepala Negara mengatakan tak mempermasalahkan posisi tersebut asalkan bekerja sama dengan pemerintah yang dipimpin.
Dia mengatakan Indonesia bisa menjadi negara yang lebih makmur asal para pemimpinnya bersatu dan bekerja sama, meski tak dalam satu kabinet yang sama.
“Bersatu tidak berarti semua harus masuk pemerintah, tidak. PDIP boleh di luar. Boleh, tetapi kerja sama,” ujar Prabowo dalam Perayaan Natal Nasional, Senin (5/1/2026).
Sebagai gambaran, Prabowo mendukung Pramono Anung yang merupakan politikus PDIP sebagai Gubernur DKI Jakarta. Padahal saat itu, koalisi gemuk Prabowo-Gibran bersama dengan partai pengusung Anies-Muhaimin mengusung Ridwan Kamil-Suswono. Bahkan jagoan PDIP tersebut menang hanya dalam satu putaran.
Dia juga mengatakan program prioritasnya seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap disalurkan ke seluruh daerah di Indonesia, termasuk di Sumatra Barat dan Aceh. Padahal, Prabowo kalah dalam Pemilu 2024 di dua daerah tersebut.
“Apakah MBG enggak sampai ke Sumatra Barat? karena aku kalah di Sumatra Barat, berarti MBG jangan ke Sumatra Barat? Tidak. Apa saya larang MBG ke Aceh? Aku kalah juga di Aceh. Tidak. Karena sekarang saya bukan milik satu partai, saya sekarang milik seluruh bangsa Indonesia,” ujarnya.
Dia juga membantah tudingan bahwa program MBG merupakan upaya untuk menggalang suara pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.
Kendati demikian, Prabowo belum menjelaskan dengan gamblang apakah akan kembali maju pada Pemilu 2029. Dia hanya mengatakan tak ada salahnya rakyat kembali mendukungnya pada pesta rakyat empat tahun mendatang.
“Ada yang nuduh Prabowo bikin MBG supaya nanti 2029 dia dipilih kembali. Selalu berpikir negatif. Namun kalau rakyat milih saya pada 2029, apa salah saya? Kalau Tuhan mengizinkan,” ujar Prabowo.
“Kalau Tuhan tidak mengizinkan, saya bikin apa saja tidak akan terjadi. Benar tidak Empat kali ikut pemilu, tiga kali kalah. soalnya waktu itu [Ketua Dewan Ekonomi Nasional] Pak Luhut [Binsar Pandjaitan] tidak dukung saya sih.”

































