Meski demikian, pada Malam Tahun Baru, Presiden Xi Jinping menyatakan bahwa China akan mencapai target ekonominya untuk 2025, dengan pertumbuhan diperkirakan mencapai "sekitar 5%."
Terlepas dari ketahanan ekspor yang ditunjukkan selama berbulan-bulan ketegangan perdagangan dengan AS, kondisi ekonomi China secara keseluruhan tetap mengkhawatirkan.
Investasi terus merosot pada November dan produksi industri tidak mencapai perkiraan. Pertumbuhan belanja konsumen melambat tajam karena sektor properti semakin memburuk.
Survei PMI resmi yang dirilis pekan lalu menunjukkan aktivitas sektor jasa mengalami penurunan bulanan kedua berturut-turut untuk pertama kalinya sejak akhir tahun 2023.
Sektor jasa menjadi salah satu titik terang langka di pasar konsumen China yang lesu selama sebagian besar tahun 2025. Penjualan ritel di sektor jasa secara konsisten melampaui pertumbuhan penjualan barang, dengan kenaikan 5,4% pada 11 bulan pertama 2025.
Pemerintah berusaha menghidupkan kembali belanja rumah tangga dengan mendorong konsumsi jasa, seperti olahraga, perjalanan, dan hiburan.
Pada September, pemerintah mengumumkan inisiatif baru untuk memperkuat upaya tersebut, dengan langkah-langkah seperti memperpanjang jam operasional museum dan situs wisata, menyelenggarakan lebih banyak acara olahraga, serta memperbolehkan lebih banyak perusahaan masuk ke industri seperti perawatan medis kelas atas.
Tanda-tanda menunjukkan bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia ini dalam kondisi lebih kokoh pada bulan terakhir 2025. Aktivitas pabrik China mengalami pemulihan yang mengejutkan dengan mengakhiri tren kontraksi selama delapan bulan, menurut PMI resmi, di mana indikator manufaktur swasta juga secara tak terduga kembali ke zona ekspansi.
(bbn)





























