Logam mulia mencatat lonjakan tajam sepanjang tahun lalu, meskipun volatilitas signifikan muncul pada akhir Desember ketika sebagian investor membukukan keuntungan dan indikator perdagangan menunjukkan kondisi jenuh beli. Emas mencetak serangkaian rekor sepanjang 2025, didukung oleh pembelian bank sentral, pelonggaran kebijakan Federal Reserve, dan melemahnya dolar AS. Permintaan terhadap aset lindung nilai, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dan friksi perdagangan, juga menopang harga.
Perak menguat bahkan lebih besar dibandingkan emas sepanjang tahun, menembus rekor dan melampaui level-level yang hingga baru-baru ini tampak tak terbayangkan kecuali bagi para pengamat pasar paling optimistis. Selain faktor-faktor yang mendukung emas, perak juga diuntungkan oleh kekhawatiran yang berkelanjutan bahwa pemerintahan AS pada akhirnya dapat memberlakukan tarif impor terhadap logam olahan tersebut.
Di kalangan bank-bank besar, terdapat dukungan untuk kenaikan lebih lanjut harga emas tahun ini, terutama dengan Federal Reserve diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga dan Presiden Donald Trump membentuk ulang kepemimpinan bank sentral AS. Goldman Sachs Group Inc. mengatakan bulan lalu bahwa skenario dasarnya adalah reli hingga US$4.900 per ons, dengan risiko condong ke sisi kenaikan.
Emas naik 0,2% menjadi US$4.328,35 per ons pada pukul 15.36 waktu New York. Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif tidak berubah. Perak menguat 1,3% menjadi US$72,61 per ons, sementara paladium dan platinum juga naik. Volume perdagangan masih rendah mengingat beberapa pasar utama, termasuk Jepang dan China, masih dalam masa libur.
Aset yang melacak Bloomberg Commodities Index mencapai hampir US$109 miliar per Oktober. Bloomberg Index Services Ltd., pengelola Bloomberg Indices termasuk BCOM, merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Bloomberg LP.
(bbn)





























