"Lebih dari 3,2-3,3 juta orang terdampak, lebih dari 1 juta orang dievakuasi dari zona berisiko tinggi," kata para peneliti.
Selain itu, mereka menyebut terdapat ribuan rumah yang terendam atau hancur serta lahan pertanian, toko, dan infrastruktur lokal mengalami kerusakan parah imbas banjir-longsor. Infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, dan jalur komunikasi pun rusak, mengisolasi kota-kota dan mempersulit operasi penyelamatan dan bantuan.
"Deforestasi yang meluas, penebangan kayu, dan penggunaan lahan yang tidak teratur telah memperburuk dampak badai secara signifikan — menghilangkan penyangga alami, membuat tanah lebih rentan terhadap erosi, tanah longsor, dan banjir, serta mengubah hujan musiman menjadi bencana besar," ungkap para peneliti.
Menurut penilaian keenam (AR6) Panel Lintas Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), ujar mereka, memproyeksikan rata-rata curah hujan monsun maupun banjir akibat hujan lebat diperkirakan bakal naik di Asia Tenggara, dengan intensitas dan frekuensi kejadian hujan lebat yang lebih besar sejalan dengan berlangsungnya pemanasan global. Perubahan ini disebabkan oleh peningkatan kandungan uap air di atmosfer karena pemanasan dan peningkatan aktivitas konvektif.
Selain itu, lanjut para peneliti, pengurangan aerosol atmosfer yang terkait dengan peningkatan standar pengelolaan polusi juga diperkirakan akan berkontribusi pada penguatan curah hujan dengan mengurangi stratifikasi atmosfer. Dalam ringkasan AR6 laporan kelompok kerja pertama (WGI), Asia Tenggara diidentifikasi dalam pengambil kebijakan sebagai wilayah di mana kejadian curah hujan lebat bakal meningkat dan menjadi lebih kerap terjadi.
"Studi observasional di Kepulauan Maritim Indonesia termasuk Bali telah mendokumentasikan tren peningkatan indeks curah hujan ekstrem, terutama sebagai respons terhadap variabilitas intraseasonal seperti Osilasi Madden-Julian (MJO). Selama fase MJO aktif, Indonesia bagian barat dan tengah dapat mengalami peningkatan probabilitas curah hujan ekstrem hingga 70-80%," papar para peneliti.
Mereka menjelaskan, pendekatan analisis didasari pada pencarian situasi cuaca yang mirip dengan peristiwa yang tengah diteliti yang pernah diamati di masa lalu.
Pada peristiwa banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera, mereka memiliki keyakinan rendah terhadap kekokohan pendekatannya, mengingat data iklim yang tersedia karena peristiwa ini sangat luar biasa dalam catatan data.
"Kami menemukan bahwa sumber variabilitas iklim alami mungkin tidak memengaruhi peristiwa tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang kita lihat dalam peristiwa tersebut dibandingkan dengan masa lalu sebagian besar disebabkan oleh perubahan iklim yang didorong oleh manusia," para peneliti memberi penjelasan.
"Kami menyimpulkan bahwa kondisi meteorologi yang menyebabkan banjir di Indonesia lebih intens dengan kedalaman hingga 2 hektopaskal (hPa) lebih dalam, curah hujan hingga 7 milimeter (mm) per hari, 10% lebih tinggi saat ini, dan angin hingga 4 kilometer (km) per jam, 10% lebih kencang di sepanjang pantai dibandingkan di masa lalu," imbuh mereka.
Dalam beberapa dekade terakhir terjadi peningkatan curah hujan atau gelombang panas di Asia Tenggara, yang dipengaruhi oleh dua faktor utama, sirkulasi Walker Pasifik dan fenomena El Niño, menurut studi penelitian.
Peneliti bekerja dengan memakai data reanalisis ERA5 beresolusi tinggi sepanjang tahun 1940 hingga 2022 di wilayah tropis Indo-Pasifik. Hasilnya, “kami menemukan bahwa situasi sinoptik berskala besar yang jarang terjadi sebelum tahun 1990-an kini muncul di Indo-Pasifik, sementara beberapa yang sebelumnya menonjol telah menghilang,” disampaikan para peneliti dalam jurnal yang dipublikasikan Nature Geoscience bulan Oktober 2024.
Polanya ini secara fisik konsisten dengan tren menuju sirkulasi Walker Pasifik yang lebih kuat, kondisi yang lebih basah dan hangat di Asia Tenggara, serta kondisi yang lebih kering di Pasifik ekuator.
Kelompok peneliti, yang di dalamnya termasuk Chenyu Dong, Robin Noyelle, Gabriele Messori, juga Adriano Gualandi, menjelaskan bahwa pola cuaca dapat dipahami sebagai konfigurasi atmosfer spasial yang berulang. Perubahan dalam pola kemudian kerap jadi sinyal terjadinya peristiwa cuaca ekstrem yang lebih intens— dan dapat memperkuat efek tren termodinamika jangka panjang.
Meski begitu, tidak ada model iklim yang dapat memprediksi secara akurat.
Dinamika atmosfer di bawah perubahan iklim dapat memengaruhi diagnosis. Pada tingkat regional, model numerik dapat menunjukkan bias dan ketidaksesuaian dengan pengamatan, kemudian mengirimkan sinyal dalam catatan pengamatan sering kali tertutupi oleh variabilitas alami.
“Kawasan Indo-Pasifik menghadirkan tantangan tambahan dan unik dalam konteks ini karena tren yang belum terjelaskan dalam sirkulasi Walker Pasifik, penggerak utama cuaca dan iklim di kawasan tersebut.”
(far/wep)




























