Logo Bloomberg Technoz

Langkah ini, kata dia, juga akan sejalan dengan keputusan Bank Sentral Amerika Serika (AS) Federal Reserve yang belakangan resmi memotong suku bunga di bulan terakhir 2025 sebesar 25 bps, sekaligus menjadi pemotongan ketiga kalinya sepanjang tahun ini.

"Jadi, saya rasa harusnya akhir tahun ini ada momentum buat BI cut rate seperti The Fed, karena untuk tahun depan belum tentu ruangnya tersedia lagi seperti sekarang," tutur dia.

Sementara itu, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg justru menghasilkan median proyeksi BI Rate di 4,75%. Artinya, BI Rate kemungkinan akan kembali ditahan, dan tidak berubah selama tiga bulan berturut-turut.

Salah satu ekonom yang memperkirakan BI Rate bertahan di 4,75% adalah Tamara Mast Henderson dari Bloomberg Intelligence. Dalam hemat Henderson, BI perlu menyeimbangkan antara kebutuhan stabilisasi rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi,

Namun kali ini, Henderson menilai BI akan lebih mengutamakan stabilitas nilai tukar rupiah. Sepanjang bulan ini (month-to-date), rupiah membukukan pelemahan 0,18% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“BI juga terus mendorong penurunan suku bunga yang sudah dilakukan berkali-kali sebelumnya bisa ditransmisikan ke suku bunga kredit perbankan. Dengan demikian, bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Henderson.

Dalam beberapa RDG terakhir, lanjut Henderson, BI terus melempar sinyal bahwa ruang penurunan suku bunga acuan masih terbuka. Namun dia menilai ini sepertinya harus menunggu hingga 2026.

“Investor khawatir bahwa pemerintah bisa saja meninggalkan disiplin fiskal dan ada tanda-tanda tergerusnya independensi bank sentral. Ini bisa menyebabkan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek,” kata dia.

Akan tetapi, suara pasar terpantau tidak bulat. Ada juga yang memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga 25 basispoin (bps) menjadi 4,5%.

Dari 34 ekonom/analis yang terlibat dalam pembentukan konsensus versi Bloomberg, 12 di antaranya (35,29%) memperkirakan demikian. Memang minoritas, tetapi jumlah yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Salah satunya adalah Helmi Arman dari Citi. Dalam catatannya, Helmi memandang rupiah sudah dalam posisi yang relatif aman. Sebab, arus modal asing mulai masuk ke pasar keuangan Tanah Air.

Sepanjang pekan lalu, BI mencatat investor asing membukukan beli bersih (net buy) Rp 1,14 miliar di pasar saham. Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), terjadi net buy Rp 2,85 triliun.

“BI mungkin sekarang sudah lebih tenang, karena risiko arus modal keluar (capital outflow) sudah mereda. Posisi investor asing di SBN meningkat signifikan,” sebut riset Citi.

(lav)

No more pages