Logo Bloomberg Technoz

Adapun, pembuktian konsep pengembangan shale oil Blok Rokan itu bakal melibatkan pengeboran sumur appraisal pada 2026-2027 dan sumur demonstration sepanjang 2027-2028.

Pengeboran sumur eksplorasi lanjutan ini akan menggunakan teknologi pengeboran Long Horizontal dan Multi-Stage Hydraulic Fracturing.

Selain menentukan batas reservoir, pengeboran appraisal bakal menguji sumber daya yang sudah dipetakan sebelumnya.

Sementara itu, sumur demonstration akan menguji adopsi penerapan pengembangan MNK pada skala yang lebih luas. Biasanya, pengeboran sumur ini dilakukan sebagai tahap akhir sebelum pengembangan penuh suatu lapangan.

“Kami saat ini tahap appraisal dan demonstration dua sampai tiga tahun yang menjadi dasar penyusunan plan of development (PoD),” kata Evi.

PHR menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat (AS) EOG Resources untuk melakukan studi evaluasi potensi shale oil di Sumur Gulamo dan Sumur Kelok.

EOG Resources dikenal luas sebagai pionir pengembangan shale oil di sejumlah aset tua di Amerika Serikat. Rekanan PHR itu mengelola portofolio shale oil di cekungan Eagle Ford, Bakken, Rocky Mountain, Permian, Gulf Coast, Anadarko dan Barnett Shale.

Belakangan, EOG Resources ikut membantu Abu Dhabi National Oil company (Adnoc) melakukan eksplorasi MNK di kawasan Al Dhafra, Abu Dhabi. Eksplorasi itu dianggap menjadi pengembangan MNK paling mutakhir di Timur Tengah saat ini.

(Dok. PHE)

Pemerintah berharap keahlian EOG Resources itu dapat mendorong Pertamina menyingkap cadangan minyak yang masih terperangkap di batuan serpih atau shale Blok Rokan.

Adapun, minyak yang terperangkap pada batuan induk itu sulit lolos lantaran formasi batuan yang terbilang rapat. Dengan demikian, pendekatan eksplorasi shale oil memerlukan teknologi Long Horizontal dan Multi-Stage Hydraulic Fracturing.

Teknologi rekahan hidrolik yang dikembangkan EOG Resources itu diharapkan dapat membuka jalur aliran minyak yang terperangkap pada formasi batuan serpih.

Menurut kajian Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat (2013), potensi inplace MNK pada Central Sumatra Basin, termasuk di dalamnya Blok Rokan, mencapai sekitar 2,8 miliar barel minyak dan 3,3 triliun kaki kubik gas.

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendorong percepatan lifting minyak atau early production proyek pengeboran MNK Blok Rokan.

Game changer atau tidak membutuhkan sumur horizontal plus multistage fracturing untuk test producibility-nya,” kata Kepala Divisi Eksplorasi SKK Migas Sunjaya Eka Saputra saat dihubungi, Jumat (31/10/2025).

Sunjaya menambahkan Pertamina mesti memastikan cadangan minyak yang bisa diangkut lewat pengeboran lebih lanjut secara horizontal dan multistage fracturing sepanjang 2026-2027.

Dia menambahkan kegiatan produksi shale oil bisa dikerjakan setelah melewati rangkaian pengeboran dua tahun mendatang.

“Rencananya akan bisa langsung diproduksikan setelah selesai pengeboran,” tuturnya.

(ibn/naw)

No more pages