“Apakah AI akan benar-benar seuntung yang diperkirakan pasar? Itu pertanyaan utamanya,” kata Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak + Co. LLC. Para trader, katanya, khawatir apakah investasi AI saat ini akan menguntungkan dalam lima tahun ke depan. “Karena itu, banyak orang berpikir, ‘Saya harus mengamankan sebagian keuntungan dulu.’”
Pada Kamis, pemerintah AS juga merilis laporan ketenagakerjaan yang lama tertunda, yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja meningkat pada September, sementara tingkat pengangguran naik tipis.
Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi sebelum penutupan pemerintahan. Angka-angka ini muncul sehari setelah risalah rapat terakhir The Fed memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai apakah suku bunga perlu kembali dipotong.
Deputi Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bank sentral perlu berhati-hati mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut karena inflasi masih berada di atas target. Menanggapi data ketenagakerjaan terbaru, Barr mengatakan pasar tenaga kerja “mulai mendingin,” dengan penciptaan lapangan kerja berada di kisaran break-even yang menjaga tingkat pengangguran tetap stabil.
Gubernur The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan bahwa menurunkan suku bunga untuk mendukung pasar tenaga kerja dapat memperpanjang periode inflasi di atas target dan meningkatkan risiko stabilitas keuangan. Sementara itu, Gubernur The Fed Chicago Austan Goolsbee mengisyaratkan bahwa ia masih berhati-hati untuk mendukung pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember.
Investor kini memperkirakan peluang pemotongan suku bunga di Desember kurang dari 40%, berdasarkan harga kontrak berjangka. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun turun enam basis poin menjadi 3,53%, sementara dolar menguat tipis.
“Sekilas, kenaikan payroll September tampak meyakinkan, tetapi jika ditelisik lebih dalam, pertumbuhan lapangan kerja tetap rapuh dan terkonsentrasi sempit menjelang penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah,” kata Ekonom Senior EY-Parthenon Lydia Boussour dalam sebuah catatan.
Di Asia, Jepang kemungkinan lebih dekat melakukan intervensi di pasar valuta asing dibandingkan yang diperkirakan banyak investor.
Kebijakan pro-stimulus Perdana Menteri Sanae Takaichi berpotensi membuat Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) menahan kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat, pada saat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mulai mereda. Takaichi dijadwalkan mengumumkan paket stimulus yang mencakup belanja sebesar ¥17,7 triliun (US$112 miliar), menurut dokumen yang dilihat Bloomberg pada Kamis.
Sementara itu di pasar komoditas, harga minyak turun setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan ia sepakat membahas rencana perdamaian yang dirumuskan AS dan Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina. Harga emas melemah seiring ketidakpastian terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember.
(bbn)


























