Eks anggota Pusat Studi Ketahanan Energi Universitas Pertahanan tersebut menegaskan sejumlah potensi kerusakan pada mesin tersebut dapat diatasi dengan penyesuaian teknis oleh produsen mesin maupun peningkatan standar mutu biodiesel.
“Sehingga penggantian filter lebih sering menjadi konsekuensi yang wajar,” kata Akhmad menjelaskan dampak penggunaan B50 terhadap mesin.
Performa Mesin
Terkait dengan dampaknya ke performa mesin, Akhmad memandang penggunaan B50 tidak selalu menurunkan efisiensi mesin. Dia menyatakan angka cetane yang lebih tinggi bisa membantu pembakaran di mesin lebih sempurna.
Akan tetapi, hal tersebut akan sangat ditentukan pada kestabilan oksidasi dan penanganan bahan bakar di lapangan, terutama pada kondisi suhu rendang yang bisa memengaruhi kemudahan alir atau flow properties.
“Karena itu, kesiapan infrastruktur penyimpanan dan distribusi juga menjadi faktor penting sebelum implementasi penuh,” tegas dia.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa hasil awal uji coba penggunaan campuran biodiesel B50 membuat filter kendaraan lebih cepat rusak dan daya mesin sedikit lebih rendah dibandingkan dengan B40.
“Umur filter dari penggunaan B50 memang cenderung lebih pendek. Misalnya umur filter tiga bulan menjadi dua bulan. Ada perbedaan sekitar 10%—20% performa dari filter tersebut,” kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi dalam rapat bersama Komisi XII, Selasa (11/11/2025) malam.
“Daya yang dihasilkan juga lebih rendah sekitar 10%—20% dibandingkan dengan B40,” tambahnya.
Eniya mengatakan uji laboratorium B50 telah dimulai dijadwalkan dan berlangsung selama enam bulan ke depan. Penerapan B50 pun diharapkan akan menekan impor solar.
“Kita sudah melakukan uji laboratorium dari komponen bahan bakar minyak yang digunakan. Ada dua jenis solar dan beberapa komposisi bahan bakar nabati yang diuji,” ujarnya.
Uji laboratorium dilakukan di Lemigas bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM meliputi pengujian karakteristik bahan bakar, chassis dynamometer, filter clogging, serta uji presipitasi dan stabilitas penyimpanan.
Dia menjelaskan pengujian tahap awal tersebut juga mencakup campuran bahan bakar solar dengan berbagai komposisi bahan baku minyak kelapa sawit. Menurutnya, solar dengan kadar sulfur rendah lebih ideal digunakan dalam campuran tersebut.
Sebagai catatan, Kementerian ESDM memprediksi Indonesia membutuhkan tambahan produksi 4 juta kiloliter (kl) FAME untuk menjalankan mandatori B50 pada 2026.
Kementerian ESDM mencatat total produksi biodiesel untuk memenuhi kebutuhan B40 berada sekitar 15,7 juta kl. Untuk B50, ESDM memprediksi program tersebut akan menghabiskan biodiesel sekitar 19 juta hingga 20 juta kl.
(azr/wdh)




























