Kadar nitrit pada menu di Cibodas 2 lebih tinggi dibandingkan di Kayu Ambon. Hal ini sesuai dengan jumlah korban, yakni 236 siswa dari Cibodas 2 dan 44 siswa dari Kayu Ambon yang mengalami gejala keracunan.
"Kadar nitrit yang tinggi inilah yang menjelaskan perbedaan jumlah kasus," beber Arie.
Tim juga menyoroti proses distribusi makanan yang dinilai terlalu lama. Menu dari Cibodas 2 dimasak sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, tetapi baru dikirim ke sekolah pada 06.30 WIB pagi.
Jeda waktu tersebut diduga memicu peningkatan kadar nitrit pada sayuran akibat perubahan alami nitrat menjadi nitrit pada suhu kamar.
Meski begitu, tidak ada korban yang mengalami diare, yang berarti penyebabnya bukan bakteri.
"Ini memperkuat dugaan bahwa faktor kimia, yakni nitrit, menjadi penyebab utama," terang Arie yang juga ahli farmakologi klinis.
Nitrit dalam jumlah kecil sebenarnya dibutuhkan tubuh dan dapat berubah menjadi Nitric Oxide (NO) yang bermanfaat menurunkan tekanan darah.
Namun, dalam kadar berlebih, zat ini justru menghambat kemampuan darah membawa oksigen, menyebabkan gejala lemas dan sesak yang baru muncul beberapa jam kemudian.
Arie menjelaskan bahwa nitrit secara alami terdapat di tanah, air, dan tanaman, tetapi kadarnya bisa meningkat akibat penggunaan pupuk dengan kandungan nitrit tinggi.
"Dalam kasus di Bandung Barat, kami menduga kadar nitrit tinggi berasal dari pupuk tanaman yang melebihi batas aman," pungkasnya.
(dec/ros)





























