Berbeda dengan shutdown pada 2018-2019, dampaknya meluas pada pegawai federal yang kehilangan gaji hingga jutaan warga AS yang kehilangan akses penuh ke bantuan pangan menjelang musim liburan.
"Secara historis, pengalaman menunjukkan bahwa penutupan pemerintah tidak menyebabkan bencana," ujar Jonathan Millar, ekonom senior AS di Barclays. "Kali ini bisa berbeda."
Pemerintahan Trump berusaha memecat ribuan pegawai federal selama shutdown dan menyarankan agar tidak semua dari sekitar 650.000 pekerja yang dirumahkan dibayar secara retroaktif. Meski mungkin gagal, upaya tersebut menambah ketidakpastian mengenai seberapa besar ekonomi akan pulih.
Menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO), bergantung pada lamanya, shutdown bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV hingga 2 poin persentase. Jika kebuntuan ini berlanjut hingga pekan Thanksgiving, sekitar US$14 miliar tidak akan bisa dipulihkan sama sekali.
Dampaknya ke sektor swasta sudah mulai terasa, mulai dari kontraktor pemerintah menganggur hingga bisnis bergantung pada wisatawan yang terdampak oleh penutupan sejumlah taman dan museum tertentu. Beberapa bandara tersibuk di negara ini mengalami penundaan karena kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara, yang termasuk staf yang harus bekerja tetapi tidak digaji.
Berikut gambaran dampak shutdown di seluruh AS:
Pekerja Dirumahkan
Dampak dari tidak adanya gaji dirasakan di seluruh negeri—tidak hanya di wilayah seperti Washington DC yang memiliki konsentrasi tinggi pegawai pemerintah federal.
Di Arkansas tengah, Seneca Blount terpaksa menarik uang dari tabungan pensiunnya dan meminta bantuan dari gerejanya untuk membayar tagihan, termasuk sewa rumah, setelah dia dirumahkan oleh Dewan Hubungan Tenaga Kerja Nasional. Pria berusia 40 tahun, yang tinggal di Maumelle dekat Little Rock, ini telah bekerja di sana selama 18 bulan dan sebelumnya bertugas selama 5 tahun di militer.
Blount bercerita ia telah menunda pembayaran cicilan mobilnya, tetapi ia bertanya-tanya apa yang akan terjadi bulan ini jika ia melewatkan cicilannya lagi.
"Saya tidak bisa terus begini, saya baru saja menandatangani kontrak sewa di kompleks apartemen saya," tutur Blount, yang juga membayar tunjangan anak dan biaya lainnya sebagai orang tua bersama putrinya. "Tagihan tidak peduli dengan pemutusan hubungan kerja [PHK]."
Karena pekerja federal yang dirumahkan secara teknis dihitung sebagai pengangguran, menurut Bloomberg Economics, tingkat pengangguran bisa melonjak menjadi 4,7% pada Oktober saat laporan akhirnya dirilis, dari 4,3% pada Agustus.
Dampak Berantai
Diperkirakan US$24 miliar belanja federal untuk barang dan jasa telah ditangguhkan pada bulan pertama shutdown. Memasuki pekan keenam, dampak berantai ini meluas hingga ke kontraktor dan pemasok yang mengharapkan dana tersebut.
"Hal ini meningkatkan risiko bahwa kontraktor harus merumahkan, memotong gaji atau bahkan memberhentikan pekerja jika mereka dalam kesulitan keuangan yang sangat parah," kata Bernard Yaros, kepala ekonom AS di Oxford Economics.
Ribuan usaha swasta yang bergantung pada pinjaman dari Badan Usaha Kecil AS (SBA) kehilangan dana. SBA memperkirakan shutdown telah memblokir US$2,5 miliar pinjaman bagi 4.800 usaha kecil per 21 Oktober—dana yang biasanya digunakan untuk operasional, termasuk pengeluaran sehari-hari dan biaya ekspansi.
"Dampaknya terhadap bisnis mulai menumpuk dan memengaruhi pertumbuhan mereka saat ini maupun di masa depan," jelas Neil Bradley, Wakil Presiden Eksekutif Kamar Dagang AS, dalam pernyataannya. "Bisnis membutuhkan pemerintah untuk beroperasi."
Subsidi Pangan Tertunda
Pekan lalu, pemerintahan Trump mengumumkan akan mendanai sebagian Program Bantuan Pangan Tambahan (SNAP) pada November guna mematuhi perintah pengadilan federal. Meski begitu, dana tersebut hanya akan mencakup setengah dari jumlah yang biasanya diterima keluarga dan penerapannya bisa memakan waktu berminggu-minggu.
Melissa Lewis, ibu tunggal berusia 36 tahun dengan dua anak di Lincoln County, Tennessee, termasuk di antara 42 juta orang yang bergantung pada subsidi SNAP. Ia mengaku khawatir tidak akan mampu menafkahi keluarganya tanpa bantuan tersebut karena ia harus berhenti bekerja sementara akibat beberapa kali operasi punggung.
"Saya tidak pernah merasa seperti ini, saya tidak tahu bagaimana cara menghidupi anak-anak saya," kata Lewis. "Banyak orang akan menderita, dan pemerintah tidak memahami bahwa mereka berjuang sendiri, sementara kita semua menderita," imbuhnya.
Clarissa Clarke, petugas hubungan pemerintah untuk North Texas Food Bank, memperkirakan permintaan akan meningkat jika subsidi SNAP tidak disalurkan. Meski bank makanan tersebut berhasil mendapat pasokan makanan untuk sisa tahun ini, mungkin tidak cukup, terutama menjelang musim liburan saat permintaan biasanya meningkat.
Program lain yang dananya terganggu ialah Head Start, yang menyediakan layanan sekolah dan penitipan anak. Kehadiran layanan ini membuat sejumlah orang tua bisa bekerja, mencari kerja, atau bersekolah, padahal mereka tidak akan bisa tanpa program ini.
Asosiasi Nasional Head Start mengungkap lebih dari 8.000 anak dan keluarga kehilangan akses ke layanan tersebut per 3 November. Mereka memperingatkan bahwa jumlah tersebut akan terus bertambah setiap hari selama pemerintah tetap tak beroperasi.
Inti perdebatan di Washington adalah subsidi yang diberlakukan Partai Demokrat pada 2021 yang membuat premi lebih murah bagi lebih dari 20 juta warga AS yang memperoleh layanan kesehatan melalui Affordable Care Act (Undang-Undang Kesehatan Terjangkau).
Menurut KFF, organisasi riset kebijakan kesehatan, kredit, yang akan berakhir akhir tahun, tersebut dapat menyebabkan premi rata-rata meningkat lebih dari dua kali lipat.
"Kerusakan ekonomi akan semakin parah jika shutdown berlanjut hingga setelah Thanksgiving, serta berdampak pada kepercayaan konsumen dan pengeluaran selama musim belanja Natal yang krusial," papar Mark Zandi, Kepala Ekonom Moody's Analytics.
(bbn)































