Logo Bloomberg Technoz

Jawaban Asosiasi Film Soal Dugaan Monopoli Industri Perfilman RI

Dinda Decembria
07 November 2025 13:20

Ilustrasi studio bioskop. (Photo by Tima Miroshnichenko via pexels.com)
Ilustrasi studio bioskop. (Photo by Tima Miroshnichenko via pexels.com)

Bloomberg Technoz, Jakarta - DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) menemukan dugaan monopoli di industri perfilman Indonesia, sekaligus menyoroti kerugian akibat pembajakan film yang mencapai Rp25 triliun.

Menanggapi hal tersebut, Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) dan Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) buka suara.

Chand Parwez Servia, Ketua Umum APFI sekaligus produser dan pemilik PT Kharisma Starvision Plus, menilai istilah “monopoli” dalam perfilman Indonesia terasa berlebihan.


 “Mekanisme pasar distribusi film berjalan cukup ideal. Film Indonesia bisa langsung didistribusikan ke bioskop. Tolok ukur rumah produksi besar harus dilihat dari konsistensi menghadirkan karya diminati penonton atau meraih penghargaan, bukan sekadar ukuran omzet,” ujar Chand kepada Bloomberg Technoz, Jumat (07/11).

Ia menekankan, pengalaman menonton yang baik merupakan investasi jangka panjang untuk menumbuhkan minat penonton. “Pengalaman buruk lahir dari film yang mengecewakan. Itu bukan pilihan produser yang ingin perfilman Indonesia berkelanjutan. Profesionalisme dan daya saing di era global sangat dibutuhkan,” tambahnya.