Logo Bloomberg Technoz

Industri Film Rugi Rp25 Triliun Akibat Pembajakan Digital

Dinda Decembria
06 November 2025 13:50

Ilustrasi menonton film (Envato)
Ilustrasi menonton film (Envato)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ketua Asosiasi Video Streaming Indonesia (AVISI), Hermawan Sutanto, mengungkapkan bahwa kerugian industri film nasional akibat pembajakan digital kini mencapai Rp25 triliun per tahun. Angka itu merupakan hasil studi terbaru yang dilakukan bersama Kementerian  Ekonomi Kreatif, Universitas Pelita Harapan, dan pelaku industri pada November 2025.

“Dari riset tersebut terlihat kerugian dari pembajakan film nasional mencapai Rp25 triliun. Angka ini naik tajam dibanding riset APROFI tahun 2017 yang mencatat kerugian sekitar Rp5 triliun per tahun,” ujar Hermawan dalam rapat dengar pendapat bersama DPR, Kemenekraf, dan asosiasi industri di Jakarta, Kamis (6/11).

Ia menjelaskan, peningkatan signifikan itu dipicu pesatnya teknologi digital dan mudahnya akses terhadap konten bajakan di platform daring. Menurut studi tersebut, untuk setiap satu orang yang menonton film nasional melalui layanan resmi, terdapat 2,3 orang yang menonton versi bajakan.


Hermawan mencontohkan, film “Pangku” yang baru tayang di bioskop pun sudah beredar luas di YouTube dan Telegram. “Saya cek, di YouTube sudah ditonton 10.000 kali, sementara di dua grup Telegram ada lebih dari 20.000 orang menonton versi bajakan,” ungkapnya. Ia mengibaratkan kondisi itu seperti bendungan yang bocor—airnya tidak sampai ke sawah—menandakan potensi industri film tak tersalurkan optimal.

Menurutnya, kebocoran ekonomi akibat pembajakan harus segera ditangani agar sektor perfilman bisa tumbuh dan berkontribusi lebih besar terhadap ekonomi nasional. “Indonesia punya pasar terbesar di ASEAN untuk film nasional, tapi jika kebocoran ini tidak ditutup, dampaknya akan makin luas,” katanya.