Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga hingga kuartal III-2025 memang masih menjadi penopang utama PDB dengan porsi mencapai 53,14%.

"Ini menandakan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter belum sepenuhnya sinkron menjaga permintaan domestik," kata dia.

"Situasi ini seharusnya dibaca sebagai peringatan struktural, bukan sekadar perlambatan teknis. Jika konsumsi tidak segera digenjot, ekonomi berisiko menghadapi demand-side slow down di akhir tahun."

Dia pun meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah pencegahan, mulai dari percepatan realisasi belanja bantuan sosial (bansos), proyek padat karya yang diharapkan mampu membalikkan arah kinerja pada kuartal akhir tahun ini.

"Dengan demikian, tugas pemerintah bukan sekadar mempertahankan angka pertumbuhan di atas 5%, tetapi memastikan pertumbuhan itu terasa nyata di kantong masyarakat. Tanpa langkah fiskal yang inklusif, ekonomi bisa tumbuh tanpa kesejahteraan "indah di data, tapi hampa di kehidupan sehari-hari rakyat." jelasnya.

Secara total, BPS sebelumnya melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III tahun ini mencapai sebesar 5,04%, atau lebih rendah dibandingkan capaian kuartal sebelumnya yang masih 5,12%.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95%, sedikit melambat ketimbang kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,97% yoy. Tetapi, masih menjadi penopang utama PDB dengan porsi mencapai 53,14%

Kontributor PDB terbesar kedua adalah investasi alias Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB). Pada kuartal III-2025, komponen ini tumbuh 5,04% dengan sumbangan 29,09%.

Penyumbang PDB terbesar ketiga adalah ekspor. Pada kuartal III-2025, ekspor tumbuh impresif 9,91% dengan sumbangan 23,64%

"Kegiatan ekspor tumbuh positif pada kegiatan barang non-migas dan jasa. didorong oleh peningkatan nilai dan volume ekspor beberapa komoditas,” ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers, baru-baru ini.

(ibn)

No more pages