Harga acuan beras putih Thailand dengan tingkat kematangan 5% turun menjadi US$351 per ton pada 22 Oktober, menurut Asosiasi Eksportir Beras Thailand, level terendah sejak September 2015.
Dalam wawancara di sela-sela konferensi di New Delhi pekan lalu, Gupta menyebut penggilingan di Thailand, Pakistan, dan Myanmar menawarkan varietas beras putih, beras parboiled, dan beras pecah dengan harga setidaknya 3% lebih murah daripada pasokan India.
"Kami berupaya menciptakan pasar baru untuk menjual surplus kami dan mendukung petani," ujar Rohith Singh, direktur departemen pasokan sipil Telangana yang bertanggung jawab atas ekspor beras. Pejabat negara bagian tersebut bertemu dengan importir dari Benin, Kuwait, dan Afrika Utara pekan lalu.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), produksi beras global diperkirakan mencapai rekor 556,4 juta ton pada 2025-2026. Para petani di negara Asia Selatan tersebut mulai memanen pada akhir September, dan panen diperkirakan akan selesai akhir tahun ini.
Pasokan global yang melimpah membuat sejumlah importir mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dalam pembelian mereka. Invictus Trading Fze, perusahaan berbasis di Dubai, berencana membeli beras dari India secara bertahap, bukan dalam jumlah besar. Pasalnya, menurut manajer pengembangan bisnis senior Dharmendra Rawat, harga diperkirakan akan terus turun.
"Tren penurunan akan berlanjut karena India memproduksi beras terlalu banyak," jelas Samarendu Mohanty, mantan ekonom senior di Institut Penelitian Padi Internasional. Harga domestik berpotensi turun lagi sebesar 10% hingga 15% akibat kelebihan pasokan dan melemahnya permintaan luar negeri.
(bbn)






























