Logo Bloomberg Technoz

Konsumsi rumah tangga, kontributor terbesar dalam pembentukan PDB dari sisi pengeluaran, tumbuh cukup solid sedikit di bawah 5% yoy. Tepatnya 4,89% yoy.

“Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi pada konsumsi untuk transportasi dan komunikasi sebesar 6,41% yoy, yang tercermin dari peningkatan mobilitas penduduk, indeks penjualan eceran bahan bakar kendaraan, serta peningkatan jumlah penumpang angkutan rel dan laut. Kemudian Restoran dan hotel tumbuh tinggi sebesar 6,32% yoy,” jelas Edi.

Menariknya, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan impresif 5,49% yoy. Jauh membaik ketimbang kuartal sebelumnya yang -0,33% yoy.

Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), menyebut bahwa perekonomian Ibu Pertiwi mulai merasakan angin segar dari berbagai stimulus fiskal, pelonggaran moneter, dan percepatan belanja negara.

“Dasarnya sudah lebih kuat untuk menjadi pijakan permintaan domestik dan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025. Momentum ini akan berlanjut sampai awal 2026,” tegasnya, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Momentum Kuat

Momentum seperti yang dikemukakan Hosianna kemungkinan bisa terwujud. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum lama ini memperkirakan ekonomi kuartal IV-2025 bisa tumbuh 5,5% yoy. Jika terwujud, maka jadi yang terbaik sejak kuartal I tahun lalu.

Full year 2025 bisa 5,2%,” tegas Purbaya.

Pelaku pasar pun berpendapat senada. Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi kumulatif sembilan bulan pertama 2025 ada di 5,01% yoy. 

“Ini sudah lebih baik dibandingkan semester I-2025 yang di bawah 5% yoy. Oleh karena itu, memberi sinyal bahwa trayektori atau arah pertumbuhan ekonomi sudah lebih kuat secara bertahap,” sebut Faisal dalam risetnya.

Ke depan, Faisal menilai momentum kuat itu akan tetap terjaga. Konsumsi rumah tangga akan makin kuat karena perbaikan di pasar tenaga kerja dan inflasi yang terkendali.

“Prospek investasi juga masih cerah, sering tren suku bunga rendah yang bisa menekan biaya dan meningkatkan minat ekspansi,” tambahnya.

Untuk 2025, Faisal memperkirakan ekonomi Nusantara tumbuh 5-5,1%. Lebih tinggi ketimbang perkiraan sebelumnya yaitu di bawah 5%.

“Menjaga stabilitas politik menjadi kunci. Dengan demikian, kebijakan fiskal dan moneter bisa lebih ekspansif.

“Namun, para pembuat kebijakan perlu menyeimbangkan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dengan menjaga stabilitas ekonomi makro. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) bisa melebar sebagai dampak dari kebijakan yang pro-pertumbuhan ekonomi,” terang Faisal.

(aji)

No more pages