China, lanjut Faisal, masih akan menjadi pasar ekspor utama Indonesia. Laporan dari Biro Statistik China memperlihatkan bahwa impor dari Indonesia naik 12,42% mtm.
Di sisi lain, ekspor ke Jepang dan Amerika Serikat (AS) sepertinya akan menurun. Faisal menilai, ekspor ke AS tertahan akibat implementasi tarif resiprokal.
Impor Tumbuh
Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperkirakan impor pada September tumbuh 1,9% yoy. Meski terbatas, tetapi membaik ketimbang Agustus yang mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) 6,56% yoy.
Peningkatan impor tidak lepas dari ekspansi industri manufaktur Tanah Air. Maklum, lebih dari 90% impor Indonesia adalah bahan baku/penolong dan barang modal untuk keperluan produksi industri dalam negeri.
Pada September, skor Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ada di 50,4. PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang ekspansif.
Kemudian Bank Indonesia (BI) melaporkan Prompt Manufacturing Index (PMI) pada kuartal III-2025 sebesar 52,66%. Lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 50,89%.
“Impor Indonesia diperkirakan tumbuh 9,28% yoy dan 5,63% mtm,” tambah Faisal.
Neraca Dagang Surplus Lagi
Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperkirakan neraca dagang Indonesia pada September akan mencatat surplus US$ 3,19 miliar. Memang masih positif, tetapi agak jauh lebih sedikit ketimbang Agustus yang mencapai US$ 5,49 miliar.
Jika terwujud, maka surplus neraca perdagangan akan terjadi selama 65 bulan beruntun.
Namun Faisal mengingatkan bahwa dalam jangka menengah pertumbuhan impor bisa melampaui pertumbuhan ekspor. Ini akan menekan neraca perdagangan dan kemudian transaksi berjalan (current account).
“Perang dagang dan agenda pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik akan berdampak kepada pelebaran defisit transaksi berjalan pada semester II-2025. Namun dampaknya sepertinya relatif terbatas,” ungkap Faisal.
Untuk 2025, Faisal memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia berada di 0,81% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Lebih tinggi dibandingkan 2024 yakni 0,62% PDB.
Faisal berpandangan, defisit ini masih terkelola dan Bank Indonesia (BI) masih punya ruang untuk menerapkan kebijakan moneter longgar.
“Kami memperkirakan cadangan devisa pada akhir 2025 berada di rentang US$ 150-156 miliar (dari US$ 155,72 miliar pada akhir 2024). Nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 16.200-16.400/US$ (dari Rp 16.102/US$ pada akhir 2024),” jelas Faisal.
(aji)



























