Logo Bloomberg Technoz

FORE juga mencatat kenaikan total liabilitas 3,95% secara tahunan menjadi Rp402,96 miliar. Peningkatan terbesar berasal dari liabilitas sewa yang kini mencapai Rp171,5 miliar, mencerminkan agresivitas ekspansi gerai di berbagai kota dan luar negeri. Selain itu, utang usaha kepada pihak ketiga mencapai Rp93 miliar, sementara utang pajak naik ke Rp20,9 miliar, dikutip dari laporan keuangan FORE yang dipublikasikan.

Yang juga menjadi perhatian adalah, posisi arus kas FORE. Perusahaan sejatinya hanya mampu mencatat arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp161,92 miliar.

Namun, posisi kas bersih di akhir September 2025 mencapai Rp329,39 miliar, melesat 427% dari sebelumnya hanya Rp62,44 miliar di akhir Desember 2024.

Lonjakan ketersediaan kas itu mengindikasikan adanya kenaikan karena sisa dana hasil IPO April lalu, bukan dari aktivitas operasional. 

Dengan kata lain, meski posisi kas tampak besar, sebagian dana masih bersifat sementara hasil suntikan IPO, bukan dari kinerja operasi yang stabil.

Manajemen FORE dalam sanggahannya menyebut bahwa lonjakan beban operasi telah diproyeksi sebelumnya. "Terutama untuk gaji kantor pusat, sewa, dan penyusutan atau depresiasi, yang merupakan konsekuensi langsung dan penting dari ekspansi gerai yang pesat serta rekrutmen karyawan yang agresif, baik di tingkat kantor pusat/gerai." 

FORE menegaskan bahwa kewajiban Rp403 miliar tidak umum jika disebut utang, yang biasa merujuk pada pinjaman dengan biaya bunga. Sementara catata pinjaman perbankan FORE hingga akhir kuartal ketiga tercatat Rp18,8 miliar.

*) Artikel ini mengalami pembaruan lewat pernyataan manajemen PT Fore Kopi Indonesia Tbk.

(red)

No more pages