Sedangkan yen Jepang menjadi yang terbaik dengan penguatan 0,18%. Diikuti peso Filipina (0,09%), dolar Singapura (0,08%), dan yuan China (0,06%).
Pasar sepertinya masih mencerna hasil rapat Bank Sentral AS Federal Reserve. Dini hari tadi waktu Indonesia, Gubernur Jerome’ Jay’ Powell mengumumkan suku bunga acuan dipangkas 25 basis poin (bps) ke 3,75-4%.
Keputusan ini selaras dengan ekspektasi pasar.
Namun pasar dibuat bimbang karena Powell masih belum bisa memberikan jawaban pasti seputar arah kebijakan moneter ke depan. Prospek Federal Funds Rate kembali diturunkan pada Desember menjadi samar-samar.
“Dalam diskusi di Komite pada rapat kali ini, ada perbedaan pandangan yang kuat mengenai apa yang harus ditempuh pada Desember. Penurunan (suku bunga acuan) lebih lanjut pada Desember masih jauh dari kata sepakat,” tegas Powell dalam jumpa pers usai rapat, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Sikap The Fed yang masih hati-hati dan kurang dovish tersebut membuat pelaku pasar cenderung bermain aman. Aset-aset berisiko rasanya belum menjadi pilihan utama.
“Pasar keuangan Asia sepertinya akan memulai dari posisi belakang. Apalagi sebelumnya ada antisipasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuan pada Desember sehingga pasar saham mencatat rekor tertinggi,” sebut Nick Twidale, Chief Market Analyst di AT Global Markets, seperti diberitakan Bloomberg News.
(aji)

























