Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham menjadi pendorong penguatan IHSG pada perdagangan siang hari ini. Saham–saham barang baku, saham keuangan, dan saham konsumen non primer mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing–masing menguat mencapai 3,44%, 1,55% dan 1,54%.

Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham Big Caps.

Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Rabu (29/10/2025).

  1. Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 30,5 poin
  2. Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 11,6 poin
  3. Bumi Resources Minerals (BRMS) menyumbang 9,14 poin
  4. Barito Pacific (BRPT) menyumbang 8,35 poin
  5. Merdeka Copper Gold (MDKA) menyumbang 7,88 poin
  6. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 6,54 poin
  7. Astra International (ASII) menyumbang 6,39 poin
  8. Amman Mineral Internasional (AMMN) menyumbang 4,77 poin
  9. Alamtri Resources Indonesia (ADRO) menyumbang 2,95 poin
  10. Petrosea (PTRO) menyumbang 2,49 poin

Adapun saham barang baku lainnya juga jadi pendorong laju melesatnya IHSG, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melesat dengan kenaikan 11,7%, dan saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) juga melesat di zona hijau dengan menguat 7,34%.

Adapun saham–saham keuangan juga jadi pemicu penguatan IHSG, saham PT Bank INA Tbk (BINA) melesat 3,94%, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menguat 3,35%, dan saham PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) juga menguat dengan terapresiasi 2,99%.

Disusul oleh penguatan saham perbankan lain, saham PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) yang menguat 2,63%, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) melesat 2,61%, dan saham PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) yang mencetak penguatan 2,41%.

Melansir riset Phintraco Sekuritas, sentimen positif berasal dari ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, adanya rencana insentif dari BI berupa penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank yang menurunkan suku bunga kredit lebih cepat mulai 1 Desember 2025, lalu ekspektasi akan mulai pulihnya ekonomi domestik pada kuartal IV–2025.

“Serta indikasi rebound harga komoditas emas,” papar Phintraco dalam risetnya.

Investor pasar modal amat menantikan hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat, yang berlangsung hari ini, dengan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin yang sudah sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar.

Selain itu, pasar juga menantikan petunjuk arah kebijakan suku bunga kedepannya, bersamaan dengan kemungkinan pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang diestimasikan berlangsung Kamis, tulis Michael Wan, Analis Senior Valas MUFG Bank, dalam catatannya.

Penurunan tarif yang signifikan terhadap China, jika benar terjadi, akan berdampak positif bagi permintaan global secara keseluruhan dan secara tidak langsung dapat menguntungkan negara–negara Asia lainnya, termasuk Indonesia.

Selain itu, langkah tersebut juga akan memperkecil perbedaan tarif dan keunggulan yang saat ini dimiliki pasar Asia lainnya dibandingkan dengan China, mengutip Bloomberg News.

Perbedaan tarif memang menjadi salah satu alasan perusahaan berinvestasi lebih banyak di Asia Tenggara, tetapi terdapat pula faktor struktural lain seperti potensi permintaan dari dalam negeri, upaya diversifikasi rantai pasok, serta pembangunan citra dan hubungan baik (goodwill).

(fad/aji)

No more pages