Adapun, Indonesia dan Brasil resmi menandatangani delapan memorandum saling pengertian yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Merdeka, Jakarta Pusat hari ini.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia dan Brasil meneken MoU di sektor energi yang melingkupi sektor EBT hingga pengembangan mineral kritis.
Bahlil menjelaskan Kementerian ESDM dan Kementerian Pertambangan dan Energi Brasil baru saja menandatangani kerjasama energi dan pertambangan. Salah satu poin yang tertuang dalam kerja sama tersebut yakni pengembangan di sektor mineral kritis.
“Secara umum itu di sektor energi termasuk di sektor mineral kritis,” kata Bahlil.
Selain itu, dalam kesempatan tersebut terdapat dua MoU yang diteken Indonesia dan Brasil. Antara lain; memorandum saling pengertian antara Pertamina dan perusahaan migas Brasil, Fluxus, serta memorandum saling pengertian antara PLN dan J&F.
Meski tak tegas, Bahlil mensinyalir Pertamina akan bekerja sama dengan Fluxus untuk mengembangkan bioetanol. Alasannya, Bahlil mengatakan Indonesia akan mendorong pengembangan bioetanol dengan menggaet Brasil.
“Kita mendorong, kan mereka salah satu negara yang sukses memberikan mandatori bioetanol, sekarang mandatori di negara mereka E30 sudah ada juga yang E100 di beberapa negara bagian. Itu kita akan kolaborasi, kita akan cek kesana,” tegas Bahlil.
Adapun, delapan kesepakatan kerja sama ekonomi yang telah ditandatangani pada hari ini memiliki nilai lebih dari US$5 miliar atau setara Rp83,19 triliun dengan asumsi kurs saat ini.
“Investasi kita dalam satu tahun saja US$20 miliar, kalau ini terwujud insyaallah paling lambat tahun depan, berarti yang dibicarakan hari ini hampir 25% dari total investasi langsung ke Indonesia,” ujar Presiden Prabowo Subianto dalam konferensi pers hari ini.
(azr/wdh)





























