Lebih dari sepekan lalu, Trump mengemukakan mungkin membatalkan pertemuan tatap muka pertamanya dengan Presiden China Xi Jinping sejak ia kembali ke Gedung Putih. Pasalnya, dia marah atas janji pemerintah China yang memperluas kontrol terhadap unsur-unsur tanah jarang. Ia juga mengumumkan tarif impor tambahan 100% akan berlaku mulai 1 November.
Hal itu mengancam gencatan senjata perdagangan yang akan berakhir pada 10 November, kecuali diperpanjang. Stabilitas hubungan AS-China yang berlangsung berbulan-bulan terganggu dalam beberapa pekan terakhir setelah Washington memperluas beberapa pembatasan teknologi dan mengusulkan pungutan terhadap kapal-kapal China yang masuk pelabuhan AS. China membalas dengan langkah serupa dan memperketat kontrol ekspor terhadap logam tanah jarang dan material kritis lainnya.
Saat ditanya dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu tentang ancaman terbarunya menaikkan tarif barang-barang China, Trump mengatakan pungutan tersebut "tidak berkelanjutan" meski "bisa dipertahankan."
Dia mengaku memiliki hubungan baik dengan pemimpin China. Dia juga memperkirakan pertemuan akan berlangsung di Korea Selatan, di mana KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) dimulai akhir bulan ini. "Saya pikir kita akan baik-baik saja dengan China, tetapi kita harus memiliki kesepakatan yang adil. Harus adil," kata Trump.
Kedelai telah menjadi sumber leverage utama bagi China dalam sengketa perdagangan. Tahun lalu, China membeli sekitar US$12,6 miliar minyak biji kedelai, tetapi tahun ini angka tersebut nol. China justru beralih ke Amerika Selatan.
Kekecewaan di kalangan petani AS—basis pendukung Trump—semakin meningkat. Banyak petani kehabisan ruang penyimpanan kedelai yang tidak terjual dan menghadapi tekanan akibat harga yang lebih rendah. Mereka sangat menantikan bantuan dari Washington, yang tertunda akibat penutupan (shutdown) pemerintah.
Pada Agustus, Trump mendesak China untuk melipatgandakan pembelian kedelai dari AS. Menunjukkan frustrasinya karena hal itu tak terjadi, pekan lalu dia mengancam akan menghentikan impor minyak goreng dari China, yang ia tuduh sengaja "menyulitkan petani kedelai kami."
Masalah fentanil telah lama dianggap sebagai area di mana kedua belah pihak dapat mencapai kemajuan, meski hal itu masih mengganggu hubungan kedua negara.
Awal tahun ini, Trump mengenakan tarif 20% untuk semua barang China terkait aliran fentanil ilegal ke AS. Tarif tersebut ditambahkan ke pungutan yang berlaku pada Liberation Day. Pada Juni, Beijing memperketat kontrol atas dua bahan kimia yang dapat digunakan untuk membuat obat tersebut. Namun, China juga berulang kali mengatakan AS-lah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah narkobanya.
Tiga isu yang diangkat Trump "sangat konkret dan beresonansi dengan kelompok domestik yang spesifik dan kuat di AS," kata Sun Chenghao, peneliti di Pusat Keamanan dan Strategi Internasional Universitas Tsinghua, Beijing.
"Dengan fokus pada isu-isu ini, Trump bertujuan meraih kemenangan cepat dan nyata yang dapat dikomunikasikan dengan mudah kepada publik, alih-alih terlibat dalam negosiasi yang berlarut-larut dan rumit secara teknis yang diperlukan untuk mengubah model industri fundamental China."
Saat ditanya dalam jumpa pers rutin di Beijing pada Senin tentang pernyataan Trump, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan, "perang dagang tidak menguntungkan bagi kedua belah pihak, dan kedua belah pihak harus bernegosiasi dan menyelesaikan masalah terkait berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan saling menguntungkan."
China telah berusaha meredakan kekhawatiran atas eskalasi pembatasan logam tanah jarang—yang sangat penting untuk produksi pesawat tempur, ponsel pintar, dan bahkan kursi mobil—guna meredakan reaksi internasional.
Dalam diskusi di sela-sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu, delegasi China menyampaikan kepada rekan-rekan mereka dari berbagai negara bahwa pengetatan kontrol ekspor tidak akan mengganggu arus perdagangan normal, seperti dilaporkan Bloomberg News sebelumnya, mengutip sumber yang mengetahui hal tersebut.
Para pejabat tersebut mengatakan China berusaha membangun mekanisme jangka panjang melalui langkah tersebut. Langkah itu diperkenalkan sebagai respons atas provokasi AS, seperti perluasan sanksi untuk menargetkan anak usaha dari perusahaan yang masuk daftar hitam, menurut sumber-sumber yang meminta namanya tidak disebutkan karena pembicaraan tersebut bersifat privat.
(bbn)



























