Struktur harga yang mengalami backwardation, di mana harga jangka pendek lebih tinggi dibanding jangka panjang, terlihat paling ekstrem dalam tiga tahun terakhir.
China merupakan produsen seng terbesar dunia, logam yang digunakan untuk melapisi baja (galvanisasi) dan sangat terpengaruh oleh kejatuhan berkepanjangan sektor properti negara itu.
Terakhir kali China mengekspor seng dalam volume signifikan terjadi pada 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga energi dan penutupan sejumlah smelter di berbagai negara.
Kini, peluang arbitrase kembali terbuka. Beberapa smelter dikabarkan berencana menjual seng ke pabrikan di Asia Tenggara, menurut sumber perdagangan yang enggan disebutkan namanya karena sifat transaksi yang sensitif.
“Beberapa produsen mulai menguji kesepakatan ekspor,” kata analis Tianfeng Securities Co., Liu Yiting.
Dia memperkirakan permintaan global yang masih lesu dapat membatasi volume ekspor hingga sekitar 5.000 ton per bulan atau kurang.
Meski begitu, upaya untuk menyeimbangkan kembali pasokan global diperkirakan dapat menahan reli harga seng di London.
Harga seng sejauh ini naik seiring dengan kenaikan tembaga, yang mendekati rekor tertingginya akibat gangguan di sektor pertambangan.
Namun, keduanya kemungkinan akan bergerak berbeda arah karena surplus pasokan seng di China terus meningkat, kata Alice Fox, ahli strategi komoditas di Macquarie Group Ltd., London.
Dalam beberapa tahun terakhir, smelter seng dan tembaga China, banyak di antaranya memiliki afiliasi dengan pemerintah, terbukti mampu mempertahankan dan memperluas pangsa pasar, seiring fokus Beijing yang lebih menekankan keamanan pasokan ketimbang profitabilitas.
Pada perdagangan awal di LME, harga seng turun 0,3% menjadi US$3.012 per ton pada pukul 10.09 waktu Shanghai.
(bbn)





























