Tony mengatakan perseroannya masih mengkaji alternatif untuk mendorong tambang Grasberg bisa beroperasi kembali.
"Mudah-mudahan bisa kita segera beroperasi walaupun tidak dalam kapasitas penuh, supaya bisa ada konsentrat yang kita produksi untuk dikirim ke smelter-smelter juga," tambahnya.
Tony menegaskan perseroannya tengah berupaya untuk mendorong tambang Grasberg kembali berproduksi, mengingat pasokan konsentrat terbilang krusial untuk menghidupkan kembali smelter yang baru beroperasi komersial tahun lalu.
“Kita kan seluruhnya sekarang ini sedang dalam tahap berhenti produksi, mulai dari tanggal 8 September,” tuturnya.
Pulih 2027
Sebelumnya, Freeport-McMoRan (FCX) Inc., induk usaha PT Freeport Indonesia, memperkirakan operasi penuh di tambang bawah tanah Grasberg GBC baru dapat pulih sepenuhnya pada 2027.
Dalam keterangan resminya di New York Stock Exchange (NYSE), FCX menyebut insiden longsoran lumpur bijih telah merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi di area GBC.
Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026 di area tambang tersebut.
“Hingga perbaikan selesai dan restart bertahap dapat dilakukan. Tingkat operasi sebelum insiden berpotensi dicapai kembali pada 2027,” tulis Freeport-McMoRan Inc dalam keterangan resmi dikutip Sabtu (11/10/2025).
Menurut laporan Freeport-McMoRan Inc, badan bijih GBC mewakili 50% dari cadangan terbukti dan terduga PTFI per 31 Desember 2024, serta sekitar 70% dari proyeksi produksi tembaga dan emas hingga 2029.
Saat ini, PTFI memperkirakan tambang Big Gossan dan Deep MLZ yang tidak terdampak dapat kembali beroperasi pada pertengahan kuartal IV 2025, sementara pengembalian operasi bertahap tambang GBC dijadwalkan pada paruh pertama 2026.
Konsekuensinya, penjualan tembaga dan emas PTFI bakal terbatas pada kuartal IV-2025, jauh di bawah estimasi sebelumnya yaitu 445 juta pon tembaga dan 345.000 ounces emas.
Sementara itu, pembukaan kembali kegiatan operasi GBC dimulai di tiga blok produksi di antaranya PB2 pada paruh pertama 2026, disusul PB3 dan PB1S pada paruh kedua 2026 dan PB1C menyusul pada 2027.
“Dalam skenario ini, produksi PTFI di 2026 berpotensi sekitar 35% lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya (1,7 miliar pon tembaga dan 1,6 juta ounces emas,” tulis manajemen Freeport McMoRan.
(fik/naw)




























