Perusahaan ini memproduksi tiga jenis produk yaitu sandal microlon, sepatu dan sandal serta aksesoris seperti tas, kaos kaki, sabuk dan juga Shoe Care. Sampai dengan akhir tahun 2024, jumlah toko adalah sebanyak 242 toko yang tersebar di seluruh Indonesia.
Langkah Alas Kaki Legendaris yang Harus Terhenti
Meski dengan brand awareness yang cukup kuat dan dengan berbagai upaya ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan melalui penjualan sepatu secara online, nyatanya hal ini tak menolong perusahaan sepatu tersebut untuk bertahan.
Terlebih dengan adanya pandemi Covid, yang disebut oleh perusahaan menjadi salah satu pemberat bisnis Perseroan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kegiatan operasional Grup dipengaruhi oleh melemahnya permintaan pasar dalam negeri pasca pandemi Covid-19 dan ketatnya persaingan di pasar alas kaki. Grup juga telah menghentikan penjualan melalui beberapa gerai ritel.” sebut Perusahaan dalam Laporan Keuangan Perusahaan Kuartal II-2025.
Bahkan, di tahun 2024 silam, perusahaan alas kaki ini musti melakukan PHK ke 233 buruh akibat penutupan pabrik di Purwakarta. Perusahaan bilang PHK ini telah disetujui oleh semua pihak dan kewajiban telah dibayarkan pada Mei 2024 silam.
Imbasnya, di akhir 2024, jumlah pegawai bata hanya tersisa 67 pekerja saja. Kontras dengan jumlah pekerja di tahun 2023 sebanyak 366 karyawan.
Bata juga melaporkan kerugian sebesar Rp148,2 miliar di tahun 2024 dan defisiensi modal sebesar Rp15,9 miliar pada tanggal tersebut. Selain itu, pada tanggal yang sama, total liabilitas jangka pendek Bata melebihi total aset lancar sebesar Rp115,4 miliar, artinya current ratio Bata di tahun tersebut menjadi negatif.
“Grup telah melakukan berbagai upaya selama empat tahun terakhir di tengah kerugian dan tantangan industri akibat pandemi dan perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat.” sebut Bata dalam laporan keuangan Perseroan
“Grup sudah tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta, karena permintaan pelanggan terhadap jenis produk yang dibuat di Pabrik Purwakarta terus menurun dan kapasitas produksi pabrik jauh melebihi kebutuhan yang bisa diperoleh secara berkelanjutan dari pemasok lokal di Indonesia.”
Bata juga mengatakan bahwa rencana restrukturisasi dari perusahaan juga akan dilakukan dengan menutup atau berencana tak lagi mengoperasikan lebih dari 200 gerai yang merugi untuk kembali memiliki jaringan gerai yang menguntungkan.
Ke depan, paling tidak akan ada empat strategi yang akan dilakukan oleh Bata. Pertama adalah dengan merenovasi gerai-gerai untuk menarik dan meningkatkan lalu lintas pelanggan di semua gerai. Selain itu, Bata berencana untuk meningkatkan harga jual rata-rata melalui koleksi produk eksklusif dengan marjin lebih tinggi.
Bata juga akan melakukan Implementasi efisiensi dalam mengelola biaya operasional. Terakhir, perusahaan ini akan melepas properti yang tidak digunakan.
(ell)



























