“Terkait dengan cabai merah solusinya kalau mau cepat yang SOS, ini jangka pendek apa yang bisa dilakukan, sudah ada 200 kabupaten meklakukan kerjasama antar daerah, masih ada beberapa kabupaten yang belum, 205 terkait pasokan, 296 sudah ada gerakan tanam” kata Suwandi.
Selain itu beberapa solusi jangka pendek lainnya juga dilakukan dengan memperlancar distribusi dari daerah surplus/ sentra ke daerah non sentra alias defisit, melakukan kerjasama dengan petani champion dan juga bersama tim teknis daerah mengawal distribusi pertanaman benih cabai
“Ada daerah pengembangan baru, minta tolong inisiasi, nanem sendiri cabai di pekarangan bisa, kemudian di daerah existing [yang sudah ada] melakukan perluasan” sebut Suwandi.
Hal ini termasuk melakukan gerakan tanam di pekarangan dan di perumahan atau dasa wisma dan kelompok wanita tani. Selain itu dia meminta tiap kepala daerah melakukan motivasi tanam dengan membagi benih atau bibit cabai dalam bentuk polybag serta membangun kebun bibit.
Suwandi Juga menyarankan agar pemerintah daerah bisa membangun cold storage dan jaringan sistem distribusi, hilirisasi cabai dalam bentuk kering, bubuk ataupun olahan, dan menempatkan petani champion ke sentra baru.
“Kemudian mengarahkan konsumen, terutama milenial, ngga harus seger terus yang dikonsumsi itu cabai kering cabai bubuk juga lebih praktis, kayak di India itu” sebutnya.
(ell)




























