Secara kumulatif, total nilai ekspor sepanjang Januari-Agustus 2025 tercatat US$185,3 miliar atau naik 7,72% dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor migas US$9,04 miliar atau turun 14,14% dibanding sebelumnya. Kemudian, nilai ekspor nonmigas tercatat US$176,09 miliar atau naik 9,15% dibanding sebelumnya.
"Jika dilihat menurut sektor, andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 12,26%. kemudian di urutan kedua ada sektor pertanian," kata dia.
Ekspor industri pengolahan yang cukup besar CPO, logam dasar bukan besi, kimia dasar organik dari pertanian, perhiasan dan barang berharga, serta semi konduktor dan barang elektronik lainnya.
Sebelumnya, kinerja ekspor-impor Indonesia diperkirakan melemah pada Agustus. Neraca perdagangan memang masih surplus, tetapi kemungkinan menyusut.
Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 19 ekonom/analis menghasilkan median proyeksi pertumbuhan ekspor Agustus sebesar 5,95% secara tahunan (year-on-year/yoy). Jika terwujud, maka ekspor melambat dibandingkan Juli yang tumbuh 9,86% yoy.
Mulai Agustus, kebijakan tarif resiprokal yang digaungkan Amerika Serikat (AS) resmi berlaku. Tarif tertinggi bisa mencapai 50%, seperti yang terjadi terhadap impor asal India.
Sebelum kebijakan tarif resiprokal berlaku, dunia usaha sepertinya sudah menggeber ekspor terlebih dulu. Saat kebijakan ini diterapkan, rasanya dunia usaha memilih untuk menahan diri.
"Perekonomian dunia masih dalam tren melambat akibat dampak kebijakan tarif resiprokal AS dan ketidakpastian yang masih tinggi," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode September.
AS mengganjar tarif bea masuk 19% untuk produk-produk Indonesia, berlaku mulai 1 Agustus. Sebelumnya, rata-rata tarif yang dikenakan terhadap produk-produk Tanah Air adalah 8%. Artinya, tarif naik lebih dari dua kali lipat.
AS adalah mitra dagang yang penting bagi Indonesia. Sepanjang Januar-Juli, ekspor non-migas ke Negeri Adidaya bernilai US$ 17,89 miliar. Angka ini setara dengan 11,75% terhadap total ekspor non-migas.
AS menjadi pasar ekspor kedua terbesar bagi Indonesia. Hanya kalah dari China yang berkontribusi 22,64% terhadap total ekspor non-migas.
(lav)



























