Logo Bloomberg Technoz

Perpaduan harga dan teknologi meyakinkan Yu Cunhai, pengusaha IT asal Shanghai, untuk membeli bZ3X pada Mei lalu. Awalnya ia melirik BYD Song L karena harga serta Tesla Model Y karena performa dan reputasi merek, namun unggahan media sosial tentang bZ3X membuatnya beralih.

Akhirnya, Yu memilih Toyota karena lebih terjangkau dibanding Tesla, dan dengan sistem bantuan pengemudi canggih harganya tetap kompetitif dengan BYD. “Toyota merek yang bagus, Corolla pertama kami awet dipakai,” ujarnya. “Secara umum, ini EV yang terjangkau untuk kebutuhan komuter di kota.”

Selain bZ3X, Toyota juga meluncurkan bZ5 tahun ini dan berencana menambah model seperti bZ7 listrik serta Lexus versi EV dan hibrida. Toyota juga akan menjadi pabrikan penumpang asing kedua setelah Tesla yang mengoperasikan pabrik sepenuhnya milik sendiri di China. Pabrik di dekat Shanghai itu dijadwalkan beroperasi 2027 dengan kapasitas awal 100.000 unit Lexus listrik per tahun.

Namun tantangan masih besar. Meski penjualan meningkat, laba rata-rata per mobil di China anjlok menjadi JPY162.000 (Rp17,82 juta dengan asumsi kurs JPY1 sama dengan Rp110) pada tahun fiskal 2024, dari JPY274.000 (Rp30,14 juta) pada 2021. Total laba Toyota di China turun menjadi JPY290 miliar (Rp31,9 triliun) dari JPY525 miliar (Rp57,75 triliun) pada periode sama.

EV buatan khusus China ini juga masih punya masalah awal. Yu mengatakan bZ3X miliknya memiliki banyak masalah kecil dan desainnya dianggap kalah dibanding mobil bensin lama Toyota. Meski begitu, ia mengaku tetap akan memilih model ini lagi.

Selain itu, selera konsumen China cepat berubah. Lonjakan penjualan mobil hibrida tahun lalu kini melambat seiring teknologi baterai makin maju, infrastruktur pengisian membaik, dan harga EV penuh semakin terjangkau. Penjualan hibrida naik 17% dalam delapan bulan pertama tahun ini, jauh lebih rendah dari lonjakan 76% pada periode sama tahun lalu, menurut data Passenger Car Association.

Meski demikian, capaian Toyota tahun ini kontras dengan rivalnya yakni pabrikan Jepang lainnya. Penjualan Toyota di China naik 6% sepanjang Januari-Agustus, sementara Nissan turun 9% dan Honda anjlok 21%.

“Sekarang ada jurang yang jelas dalam penjualan kendaraan energi baru di antara produsen Jepang di China,” kata Tatsuo Yoshida, analis senior otomotif Bloomberg Intelligence. “Toyota di satu sisi, yang lain di sisi seberang.”

(bbn)

No more pages