Logo Bloomberg Technoz

Lonjakan ekspor mulai mereda setelah perusahaan-perusahaan bergegas mengirimkan produk untuk menghindari tarif Presiden AS Donald Trump. Banyak analis dan investor memperkirakan ekonomi China pada bulan-bulan terakhir 2025 melambat setelah mencatat pertumbuhan 5,3% pada paruh pertama.

Pertanyaan kunci saat ini: apakah pemerintah akan turun tangan dan menambahkan stimulus guna mendongkrak pertumbuhan, terutama karena Partai Komunis yang berkuasa bersiap menggelar pertemuan tertutup pada Oktober untuk meninjau rencana pembangunan lima tahun ke depan.

Kendala lain bagi ekonomi ialah pasar properti yang masih terpuruk setelah krisis dimulai pada 2021. Penjualan properti di China terus menurun pada Agustus meski dua kota terbesar di negara itu telah mengeluarkan langkah-langkah stimulus tambahan. 

"Pasar properti tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan," kata Raymond Yeung, kepala ekonom untuk China Raya dari Australia & New Zealand Banking Group Ltd. "Ini berbeda dengan situasi 2019-2020. Ekspektasi pasar telah berubah. Dan perlambatan ini lebih bersifat struktural daripada siklus."

Meski hubungan AS-China tampaknya sudah stabil setelah percakapan telepon antara kedua pemimpin mereka, gencatan senjata tarif 90 hari antara kedua negara akan berakhir awal November. Trump mengatakan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) mendatang di Korea Selatan.

Usaha pemerintah untuk mengurangi kelebihan kapasitas dan persaingan berlebihan di antara perusahaan juga memberikan tekanan pada perekonomian. Upaya ini meningkat pada awal Juli dan mungkin telah berkontribusi pada penurunan produksi produk-produk seperti baja.

(bbn)

No more pages