"Kami secara taktis optimistis terhadap kinerja relatif saham Asia Pasifik dibandingkan saham AS pada sisa tahun ini," kata Homin Lee, ahli strategi makro senior di Lombard Odier Singapore Ltd.
Ia menambahkan perpaduan berbagai faktor, mulai dari harga komoditas yang stabil hingga suku bunga AS yang lebih rendah dan gangguan perdagangan yang mereda, akan memberikan latar belakang yang baik bagi pasar.
Indeks MSCI Asia diperdagangkan 16 kali estimasi laba masa depan, di bawah 23 kali estimasi S&P 500. Sementara itu, menurut data yang dihimpun Bloomberg, Indeks Hang Seng Tech yang melonjak ke level tertinggi empat tahun pekan lalu diperdagangkan sekitar 21 kali estimasi laba masa depan, dibandingkan 27 kali untuk Indeks Nasdaq 100.
Meski kecepatan dan skala siklus pelonggaran kebijakan The Fed masih belum pasti, pemotongan suku bunga pada 17 September lalu memberikan dorongan tambahan bagi mata uang Asia.
Sinyal dari pasar opsi menunjukkan bahwa pelaku pasar membayar premi untuk melindungi diri dari penguatan mata uang Asia lebih lanjut. Agregat pembalikan risiko di kawasan ini, indikator permintaan opsi yang akan memberikan imbal hasil jika mata uang menguat terhadap dolar AS selama periode tertentu, sudah di zona positif selama berbulan-bulan.
"Mengingat latar belakang ini, kami meningkatkan eksposur kami terhadap saham non-AS, termasuk saham Asia, dibandingkan dengan saham AS," kata Chang Hwan Sung, manajer portofolio multi-aset dari tim solusi investasi Invesco di Hong Kong.
Preferensi ini terutama didorong oleh pandangan bearish terhadap dolar AS dan "arus keluar modal AS yang mencari diversifikasi internasional dan apresiasi mata uang asing," imbuhnya.
Tentu saja, setiap jeda siklus penurunan suku bunga The Fed yang dipicu inflasi atau bahkan perubahan kebijakan yang hawkish akan dengan mudah membalikkan sentimen investor, sedangkan hubungan AS-China tetap rentan seiring memburuknya situasi. Sementara itu, ketidakpastian politik di Indonesia, Thailand, dan Jepang juga menjadi sorotan.
Namun, untuk saat ini, ada optimisme bahwa meski keistimewaan AS terus menarik skeptisisme, minat terhadap saham Asia kemungkinan akan tetap kuat.
"AS tetap menjadi pusat gravitasi untuk kecerdasan buatan [AI] dan kekuatan laba perusahaan, tetapi Asia menawarkan sudut pandang yang berbeda," kata Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi Saxo Markets, mengutip "cerita permintaan domestik India, bank-bank Jepang di tengah pengetatan Bank of Japan [BOJ], dan investasi teknologi China yang selektif di mana dukungan kebijakan dan monetisasi mulai selaras."
(bbn)































