Anggia menerangkan saat ini seluruh persyaratan yang diajukan perusahaan SPBU swasta dalam pembelian BBM dari Pertamina telah dipenuhi seluruhnya oleh perusahaan pelat merah tersebut.
Dengan begitu, dia berharap proses negosiasi bisnis ke bisnis yang dilakukan dapat segera rampung. Terlebih, BBM dasaran yang diimpor Pertamina untuk memasok kebutuhan swasta telah tiba di Indonesia.
“Semua persyaratan sudah dipenuhi oleh Pertamina, karena harusnya kalau memang niat baik untuk menyelesaikan masalah ini agar masyarakat bisa terlayani, ya sudah langsung harusnya segera laksanakan B2B-nya,” kata dia.
Di sisi lain, Anggia mengklaim terdapat empat dari lima operator SPBU swasta yang telah menyatakan setuju membeli BBM dasaran dari Pertamina.
Sekadar catatan lima badan usaha (BU) hilir migas swasta yang beroperasi di Indonesia dan terlibat dalam rapat pembahasan koordinasi BBM dengan Kementerian ESDM akhir-akhir ini a.l. Shell Indonesia (Shell), PT Aneka Petroindo Raya (BP-AKR), PT Vivo Energy Indonesia (Vivo), PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (Mobil), dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKR).
“Sampai Rabu malam itu dari 5 badan usaha swasta, hanya 1 BU swasta yang belum sepakat,” kata Anggia.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan BBM untuk jaringan SPBU swasta mulai terisi dalam 7 hari, terhitung sejak Jumat (19/9/2025).
Kepastian itu disampaikan Bahlil selepas menggelar rapat bersama dengan eksekutif SPBU Swasta di antaranya Shell Indonesia, BP-AKR, Vivo, Exxon, serta AKR Corporindo Jumat pekan lalu.
"[Hal] yang jelas 7 hari barang ini [BBM] sudah jalan,” kata Bahlil saat menggelar konferensi pers di Kementerian ESDM pada hari yang sama.
Hanya saja, janji Bahlil bahwa stok BBM di SPBU swasta kembali tersedia dalam 7 hari itu meleset.
Bensin Mentah Tiba
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga telah menyatakan kargo bensin mentah atau base fuel yang akan dipasok ke operator SPBU swasta tiba di Jakarta pada Rabu (24/9/2025).
Akan tetapi, Pertamina Patra Niaga tidak menampik masih terdapat beberapa badan usaha swasta yang memerlukan waktu untuk berkoordinasi dengan kantor pusat masing-masing sehingga belum menyerahkan kebutuhan kuota BBM tambahan.
Perseroan mengklaim badan usaha swasta itu telah memiliki komitmen yang sama untuk segera menyampaikan kebutuhan kuota tambahan.
Dalam perkembangannya, Presiden Direktur BP-AKR Vanda Laura mengungkapkan hingga saat ini perusahaannya masih berkoordinasi ihwal pembelian bensin mentah tersebut.
Namun, Vanda enggan mengungkapkan kendala yang menghambat proses negosiasi dengan Pertamina.
“Nanti ya. Masih sedang dikoordinasikan, jadi nanti tunggu saja update-nya,” kata Vanda ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Rabu (24/9/2025) malam.
Sementara itu, Shell Indonesia enggan berkomentar ihwal perkembangan negosiasi pembelian bensin mentah dari perusahaan pelat merah tersebut.
(azr/naw)



























