Logo Bloomberg Technoz

Namun, setelah itu, pasar berbalik suram terutama ketika sentimen terkait risiko fiskal dan nasib independensi Bank Indonesia menjadi tanda tanya pelaku pasar, terutama investor asing. Pelemahan rupiah membuat pamor SUN makin tak menarik.

Rupiah sudah tergerus 1,76% selama bulan ini saja dan pagi ini makin ambles menyentuh level Rp16.785/US$.

Tekanan yang melanda surat utang RI dan rupiah bukan cuma karena faktor dalam negeri. Aksi jual yang melanda US Treasury, surat utang AS, juga membuat sentimen muram di pasar obligasi global. 

Kenaikan indeks dolar AS juga membuat pergerakan rupiah kian berat. Penyebabnya serupa, yakni data ekonomi Amerika tadi malam yaitu klaim pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang mengikis ekspektasi terhadap penurunan suku bunga acuan The Fed ke depan.

Di sisi lain, pasar global juga mengkhawatirkan risiko terjadinya shutdown pada pemerintahan Amerika Serikat (AS) pada 1 Oktober nanti. 

Presiden Donald Trump memprediksi bahwa penutupan pemerintah AS atau shutdown kemungkinan besar terjadi, mengutip kebuntuan antara partainya dan Demokrat.

“Kami akan terus berbicara dengan Demokrat, tetapi saya pikir Anda bisa saja berakhir dengan negara yang ditutup untuk sementara waktu,” kata Trump pada Jumat di Oval Office.

Prospek penutupan pemerintah meningkat setelah Republik dan Demokrat di Senat masing-masing memblokir rencana rival untuk menyediakan pendanaan sementara pada Jumat pagi. "Rupiah berpotensi overshoot ke Rp17.100/US$ pada awal Oktober akibat volatilitas pasar selama shutdown," kata tim analis Mega Capital Sekuritas dalam catatannya pagi ini.

Pernyataan Gubernur BI

Beberapa saat menjelang pasar keuangan RI dibuka pada pukul 09.00 WIB, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo tiba-tiba merilis pernyataan yang tak biasa merespon situasi yang mengancam rupiah.

Gubernur Perry memastikan akan terus memantau dan berkomitmen untuk menjaga stabilitas rupiah. Otoritas moneter, kata dia, akan menggunakan berbagai instrumen guna menjaga nilai rupiah ke depan.

"Bank Indonesia menggunakan seluruh instrumen yang ada secara bold, baik di pasar domestik melalui instrumen spot, DNDF DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), dan pembelian SBN [surat berharga negara] di pasar sekunder, " ujar Perry dalam keterangan resminya kepada wartawan, Jumat (16/9/2025).

Selain ke pasar domestik, Perry juga memastikan BI juga melakukannya di pasar luar negeri di Asia, Eropa, dan Amerika secara terus menerus melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF)

Perry yakin seluruh upaya tersebut dapat menjaga dan kembali menstabilkan rupiah. Dia juga turut meminta seluruh pelaku pasar untuk menjaga iklim keuangan agar lebih kondusif.

"Bank Indonesia juga mengajak seluruh pelaku pasar untuk turut bersama-sama menjaga iklim pasar keuangan yang kondusif, sehingga stabilitas nilai tukar Rupiah dapat tercapai dengan baik," tutur dia.

Rupiah di pasar offshore pada perdagangan Kamis malam sempat menjebol level Rp16.852/US$. Rupiah NDF di pasar offshore kembali tertekan pagi ini dengan pergerakan di kisaran Rp16.833/US$ sebelum akhirnya berbalik menguat di posisi Rp16.796/US$ pada pukul 09:30 WIB.

(rui)

No more pages