Logo Bloomberg Technoz

“Waktu istirahat tiba,” ujar Craig Johnson dari Piper Sandler. “Tren kenaikan kuat belum berakhir. Namun, profil risiko-keuntungan jangka pendek semakin sempit karena saham terus naik sementara momentum dasarnya mulai melemah.”

Dari sisi korporasi, saham Micron Technology Inc yang hampir dua kali lipat sejak awal tahun, justru melemah meski menyampaikan proyeksi positif. Intel Corp dikabarkan sedang mencari investasi dari Apple Inc sebagai bagian dari upaya pemulihan. Sementara itu, Oracle Corp masuk ke pasar utang dengan penjualan obligasi bernilai investasi senilai US$18 miliar.

Risiko kebijakan juga membebani pasar. Perdana Menteri Korea Selatan memperingatkan bahwa proyek investasi besar di AS berpotensi terhenti hingga masalah visa diselesaikan, dan mendesak Washington memberi kepastian kepada warga Korea yang khawatir soal penahanan. Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump meluncurkan investigasi atas impor robotik, mesin industri, dan perangkat medis, menandakan kemungkinan perluasan rezim tarif.

Dari The Fed, Gubernur Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan pemangkasan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan, namun bank sentral harus melakukannya dengan hati-hati.

Rally Tertahan

Meski S&P 500 mampu menepis reputasi September sebagai bulan terburuk bagi kinerja saham, indeks itu gagal mencatat kenaikan pada Rabu. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa reli tengah kehilangan tenaga.

Analis Bank of America Corp, Savita Subramanian, mencatat bahwa pada 19 dari 20 metrik, indeks saham acuan AS diperdagangkan pada level yang secara statistik terbilang mahal.

Meski begitu, pasar saham masih bertahan dekat level tertingginya dengan pandangan bahwa ekonomi AS belum jatuh ke jurang resesi dan pertumbuhan akan didukung oleh membaiknya laba korporasi serta euforia AI.

“Secara teori, investor membayar lebih untuk aset yang dapat diprediksi dan diberi kompensasi untuk ketidakpastian. Mungkin kita harus menganggap valuasi hari ini sebagai ‘normal baru’, alih-alih berharap kembali ke rata-rata masa lalu,” tulis Subramanian dalam sebuah catatan riset.

Namun, risiko tetap ada, mulai dari inflasi yang membandel hingga moderasi pertumbuhan pasar tenaga kerja AS.

“Isu stagflasi terus muncul setiap beberapa bulan,” kata Matt Maley dari Miller Tabak. “Data harga kunci yang keluar Jumat nanti akan menentukan apakah kekhawatiran stagflasi semakin besar atau justru mereda. Itu akan penting untuk melihat arah pasar saat kita memasuki Oktober,” tambahnya.

Di pasar komoditas, harga tembaga melonjak setelah Freeport-McMoRan Inc menyatakan force majeure atas pasokan kontrak dari tambang raksasa Grasberg di Indonesia. Sementara itu, harga emas turun 0,7% pada Rabu, sedangkan harga minyak melanjutkan kenaikan untuk hari kedua berturut-turut.

(bbn)

No more pages